طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ #menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim# اطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ #tuntutlah ilmu walau hingga ke negeri Cina#
Tampilkan postingan dengan label Penelitian Terdahulu Audit BPK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penelitian Terdahulu Audit BPK. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Februari 2014

GALI JURNAL KETIGA BPK

Jurnal ketiga yang aku baca hari ini adalah
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP AUDIT JUDGMENT
(STUDI PADA BPK RI PERWAKILAN PROVINSI JAWA TENGAH)
yang merupakan karya dari A.S. Praditaningrum dan Indira dari UNIV. DIPONEGORO

Latar Belakang dilakukannya penelitian ini:
ketika memeriksa LKPD dan memberikan opini terkait LKPD, Auditor pemerintah
dalam Hal ini BPK memerlukan audit Judgment. Penelitian mengenai
audit judgment ini penting dikarenakan dalam standar pemeriksaan BPK
auditor diwajibkan menggunakan pertimbangan profesionalnya terkait
pemeriksaan yang dilakukan. Semakin baik audit judgment yang diberikan
maka akan semakin baik hasil auditnya.

Sebagaimana judul penelitian ini, maka peneliti menggunakan
model regresi linear berganda. Metode yang digunakan telah dijelaskan dengan
lugas dalam definisi operasional variabel dalam penelitian ini.
Dimana VARIABEL BEBAS ( variabel yang mempengaruhi) dalam penelitian ini
terdiri dari 5 variabel, yaitu:
1.) Gender (dengan hipotesis: gender berpengaruh pada audit judgment yg diberikan)
2.) Pengalaman audit (hipotesis: pengalaman audit berpengaruh positif terhadap audit judgment)
3.) Keahlian audit (berpengaruh positif terhadap audit judgment)
4.) Tekanan ketaatan (berpengaruh negatif terhadap audit judgment)
5.) Kompleksitas tugas (berpengaruh negatif terhadap sudit judgment)
Sedangkan variabel terikat (variabel yang dipengaruhi) dalam penelitian  ini adalah
audit judgment.

Indikator yang digunakan peneliti dalam penelitian ini pun telah dijelaskan yaitu meliputi:
Indikator yang digunakan peneliti untuk mengukur variabel bebas ialah:
1) Gender, pengukuran variabel ini yaitu dengan membentuk variabel "gander" sebagai variabel dummy. Jika pria=1, wanita=0
2) Pengalaman audit, indikator yang digunakan peneliti adalah keterangan mengenai lama auditor tsb bekerja pada BPK (dalam tahun)
   serta jumlah tugas yang telah ditanganinya.
3) Keahlian audit, untuk mengukur variabel ini peneliti menggunakan data primer berupa kuisioner yang terdiri dari 6 item pertanyaan.
   Skala pengukurannya adalah skala likert lima poin (1=sangat tidak setuju; 2=tidak setuju; 3=netral; 4=setuju; 5=sangat setuju)
4) Tekanan ketaatan, untuk mengukur variabel ini peneliti menggunakan data primer berupa kuisioner yang terdiri dari 8 item pertanyaan.
   skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert 5 poin (1=sangat tidak setuju; 2=tidak setuju; 3=netral; 4=setuju; 5=sangat setuju)
5) kompleksitas tugas, untuk mengukur variabel ini peneliti menggunakan data primer berupa kuisioner yang terdiri dari 6 item pertanyaan.
   skala pengukurannya adalah skala linkert 5 poin (1=sangat tidak setuju; 2=tidak setuju; 3=netral; 4=setuju; 5=sangat tidak setuju)

Sedangkan variabel terikatnya berupa audit judgment menggunakan sumber data primer yang merupakan kuisioner
diberikan kepada auditor pemerintah di BPK berupa pertanyaan yang terdiri atas 3 item pertanyaan untuk masing2 kasus.
skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert 5 poin (1=rendah sekali; 2=rendah; 3=netral; 4=tinggi; 5=sangat tinggi)

KESIMPULAN
1) Gender berpengaruh terhadap audit judgment, dimana auditor wanita memiliki kemampuan yang lebih baik dlam memberikan
   audit judgment dikarenakan kemampuan menangkap informasi secara komprehensif
2) hipotesis ketiga diterima, bahwa semakin banyak pengalaman audit serta semakin tinggi keahlian dalam audit seorang auditor maka
   kemampuan dlm memberikan audit judgment yang lebih baik
3) hipotesis keempat pun diterima dimana tekanan ketaatan yang diberikan atasan akan mendorong auditor untuk berperilaku menyimpang
   sehingga menghasilkan audit judgment yang buruk
4) hipotesis terakhir mengenai kompleksitas tugas audit seorang auditor ketika melakukan audit DITOLAK, yang berarti bahwa variabel
   ini tidak mempengaruhi audit judment yang diberikan seorang auditor.

readmore »»  

GALI JURNAL KEDUA BPK

jurnal kedua yang aku baca hari ini adalah
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS AUDIT BPK-RI
yang merupakan karya dari DYAH SETYANINGRUM dari UNIV. INDONESIA

Latar Belakang
adanya otonomi daerah menuntut akuntabilitas dan transparansi
oleh setiap pemda di Indonesia akan keuangan negara yang digunakan/dikelola
pada keuangan daerah yang notaben nya telah menerima
limpahan kekuasaan melalui desentralisasi atau otonomi

GG (good governance) akan terwujud jika pengawasan, pengendalian dan pemeriksaan
akan pemda yg menjalankan daerah telah baik. Pemeriksaan (audit)
keuangan negara yang independen secara eksternal dilakukan oleh BPK
jadi penting untuk mengukur kualitas audit bpk.

indikator utama yang digunakan dalam penelitian ini
sekaligus sebagai variabel yg akan dipengaruhi (VARIABEL TERIKAT) adalah
KUALITAS AUDIT
dimana kualitas audit diterjemahkan melalui INDIKATOR BERUPA
temuan audit BPK.(Semakin banyak temuan audit yang diungkap BPK, mengindikasikan bahwa
semakin baik kualitas audit yang dilakukan auditor pemerintah tsb)
temuan audit BPK dlm hal ini adalah total jumlah kasus
temuan oleh BPK, berupa:
1) kerugian daerah
2) potensi kerugian daerah
3) kekurangan penerimaan
4) administrasi
5) ketidakhematan
6) ketidakefisienan
7) ketidakefektifan

VARIBEL yang mempengaruhi (VARIABEL BEBAS) adalah
1) Latar Belakang Pendidikan Auditor > berpengaruh positif pada kualitas (temuan) audit
2) kecakapan profesional auditor BPK > berpengaruh positif pada kualitas (temuan) audit
3) pendidikan berkelanjutan  > berpengaruh positif pada kualitas (temuan) audit
4) Ukuran pemerintah daerah (aset pemda) > berpengaruh negatif pada kualitas (temuan) audit
5) Kompleksitas pemda (yang diukur dengan aspek luas wilayah, kependudukan, mata pencaharian penduduk struktur pemerintahan, sosial budaya, dan perekonomian) > berpengaruh positif pada kualitas (temuan) audit
6) Kualitas audit tahun lalu > berpengaruh positif pada kualitas audit
7) Umur pemerintah daerah > berpengaruh positif pada kualitas audti


Penelitian ini menggunakan model REGRESI MULTIVARIAT, dengan definisi operasional variabel dijelaskan, meliputi:

DEFINISI OPEASIONAL VARIABEL

untuk VARIABEL BEBAS (INDEPENDEN), meliputi:
Kualitas Audit sumber data adalah data sekunder yang diambil dari Laporan
Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester tahun tertentu (IHPS) sumber dari BPK pada web www.BPK-RI.go.id
atau www.bpk.go.id. DATA SEKUNDER INI berupa nilai temuan audit BPK (berupa ketujuh
indikator yang telah dijelaskan sebelumnya, meliputi: kerugian daerah, potensi kerugian daerah,
kekuarangan penerimaan, adm, ketidakhematan, ketidakefisienan, ketidakefektifan) yang semuanya dilaporkan
dalam satuan moneter pada IHPS.


untuk VARIABEL TERIKAT (DEPENDEN)

1) Latar belakang pendidikan auditor, indikatornya adalah pendidikan Ketua Tim Audit.
   pengukuran variabel ini dengan cara membentuk variabel "latar belakang pendidikan auditor" sebagai
   variabel dummy; bernilai 1, jika=pendidikannya pasca sarjana, 0 jika=selain pascasarjana.
   DATA untuk variabel ini adalah DATA PRIMER yang BERSUMBER dari Biro SDM BPK RI

2) Kecakapan profesional, indikatornya adalah pengalaman audit ketua Tim Audit (dalam satuan tahun).
   DATA untuk variabel ini adalah DATA SEKUNDER yang BERSUMBER dari Biro SDM BPK RI

3) Pendidikan berkelanjutan, indikatornya adalah jumlah pelatihan yang diikuti oleh ketua tim audit.
   DATA untuk variabel ini adalah DATA SEKUNDER yang BERSUMBER dari BIro SDM BPK RI

4) Ukuran pemerintah daerah, indikator pengukurannya adalah Ln total aset pemda.
   DATA untuk variabel ini adalah DATA PRIMER yang BERSUMBER dari Laporan Keuangan Pemda (LKPD)

5) Kompleksitas PEMDA, indikatornya adalah aspek luas wilayah, kependudukan, mata pencaharian penduduk
   struktur pemerintahan, sosial budaya, dan perekonomian.Pengukurannya dilakukan dengan cara membentuk
   variabel "kompleksitas PEMDA" sebagai variabel dummy; bernilai 1 jika=pemda berupa KOTA, 0=jika lainnya.
   DATA untuk VARIABEL ini adalah DATA PRIMER yang BERSUMBER dari LKPD (Laporan Keuangan Pemerintah Daerah).

6) Kualitas audit tahun lalu, indikatornya adalah ukuran perbandingan antara jumlah temuan audit
   pada Pemda tahun lalu dibagi dengan nilai aset pemda tahun lalu. DATA untuk variabel ini adalah DATA SEKUNDER
   yang bersumber dari laporan IHPS dan LKPD.

7) Umur pemerintah daerah, indikatornya adalah umur Pemda sejak diterbitkannya peraturan perundangan
   pembentukan pemerintah daerah (dalam tahun). DATA untuk VARIABEL ini adalah DATA SEKUNDER yang
   BERSUMBER dari LKPD.

KESIMPULAN
Secara bersamaan Karakteristik auditor dan karakteristik pemda mempengaruhi kualitas  audit

Namun secara parsial menunjukan bahwa karakteristik auditor yang meliputi;
latar belakang pendidikan auditor, kecakapan profesional, dan pendidikan profesional
berkelanjutan tidak mempengaruhi kualitas audit.

sedangkan untuk karakteristik auditee (pemda) yakni ukuran pemda saja yang berpengaruh negatif
terhadap kualitas (temuan) audit, sedangkan kompleksitas pemda tidak terbukti berpengaruh terhadap kualitas (temuan) audit.
Sama halnya dengan variabel kontrol dalam penelitian ini, yaitu: 1) temuan audit tahun lalu yang terbukti berpengaruh
positif signifikan terhadap kualitas audit. Sedangkan variabel kontrol yang yang kedua yaitu 2) umur pemda
tidak berpengaruh terhadap kualitas audit 
readmore »»  

GALI JURNAL PERTAMA BPK

Jurnal pertama yang aku baca hari ini:
PENGARUH KARAKTERISTIK PEMDA DAN TEMUAN AUDIT BPK
TERHADAP KINERJA PEMDA KAB/KOTA DI INDONESIA TH ANGGARAN 2007
Karya WIDYA ASTUTI M. & DEBBY FITRIASARI dari UNIV. INDONESIA


latar belakang dilakukannya penelitian ini ialah adanya
otonomi daerah sehingga pemerintah pusat melimpahkan kekuasaan pada daerah tingkat II
melalui pemda kab/kota sebagai penyelenggara pemerintahan
bagi masyarakat wilayah tsb. Oleh karena itu diperlukan evaluasi
kinerja dan pemeriksaan terkait
pengelolaan keuangan negara yang digunakan pemda wilayah tsb.


variabel yang digunakan, meliputi:

variabel independen (bebas):
1. karakteristik pemda
   yang dijelaskan dengan:
   - ukuran pemda (jumlah aset pemda)
   - pendapatan asli daerah (PAD)
   - dana alokasi umum (DAU)
   - belanja pemda

2. temuan audit bpk (audit findings)
   - dengan asumsi; semakin banyak temuan audit melalui ekppd
     (evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah)
     maka semakin jelek kinerja pemda (arah negartif)

variabel dependen (terikat):
#  kinerja pemda kab/kota
   - skoring kinerja pemda

   Definisi Operasional Variabel independen untuk:
   SUMBER SKOR KINERJA: EKPPD (Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah)
   dengan range skor 1-4. Dihitung berdasarkan LPPD (Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah)
   oleh Kementerian Dalam Negeri.
 
   yang menarik dalam penelitian ini, sampel yang digunakan
   adalah pemda yang memiliki laporan NERACA hal ini dilakukan agar dapat memperoleh data ASET pemda,
   Selain itu PEMDA yang dipilih adalah juga pemda yang memiliki Laporan Realisasi Anggaran,
   hal ini dilakukan untuk mengetahui DAU, PAD, dan TOTAL REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN

   untuk data TEMUAN AUDIT BPK maka data yang diperoleh dari WEB BPK mengenai IKHTISAR PEMERIKSAAAN
   SEMESTER I & II TAHUN 2008. untuk pemeriksaan anggaran 2007

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah multiple regresi method (regresi berganda) untuk melihat
seberapa besar variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat.

HIPOTESIS PENELITIAN
H1:  Ukuran pemda; berpengaruh positif terhadap skor kinerja pemda
H2:  tingkat kekayaan daerah; indikatornya adalah PAD; berpengaruh positif terhadap skor kinerja pemda
H3:  tingkat ketergantungan pada pemerintah pusat; indikatornya adalah DAU; berpengaruh positif pada kinerja pemda
H4:  belanja daerah berpengaruh positif terhadap kinerja pemda
H5:  Temuan audit;  berpengaruh negatif terhadap kinerja pemda


KESIMPULAN
semua variabel karakteristik Pemda dan juga temuan audit BPK berpengaruh signifikan terhadap
variabel independen dengan arah yang sesuai dengan hipotesis kecuali untuk variabel belanja daerah.
Variabel ukuran daerah, kekayaan daerah dan tingkat ketergantungan daerah terhadap pemerintah pusat
berpengaruh positif terhadap skor kinerja Pemda, sedangkan variabel belanja daerah dan temuan audit BPK
berpengaruh negatif terhadap skor kinerja Pemda.

KEMUNGKINAN UNTUK PENELITIAN SELANJUTNYA
ternyata variabel independen hanya mempengaruhi 9,4% variabel dependennya
sedangkan 90,60% dipengaruhi oleh VARIABEL LAIN
kemungkinan VARIABEL LAINnya itu adalah
1. TINGKAT PERTUMBUHAN
2. LEVERAGE
3. JUMLAH PENDUDUK
4. JUMLAH PEGAWAI PEMDA
5. JUMLAH FASILITAS UMUM
ATAU
gunakan variabel-variabel yang menjadi
indikator kinerja kunci dan menjadi komponen dalam skor kinerja CONTOH
terkait KINERJA KEUANGAN PEMDA dan KINERJA BIDANG URUSAN WAJIB dan MENJADI
TANGGUNG JAWAB PEMDA


NOTE:
GAMBAR 1: Kerangka Teoritis Penelitian
TABEL 1: Definisi Operasional Variabel
TABEL 3: Dskripsi statistik dan variabel independen dan dependen utk sampel 275 Pemda Terpilih
TABEL 4: Uji Beda rata22 klp pemda dgn aset dan temuan audit baik tinggi maupun rendah.
TABEL 5: Uji signifikansi pengaruh  variabel2 yang diteliti
readmore »»