طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ #menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim# اطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ #tuntutlah ilmu walau hingga ke negeri Cina#

Senin, 08 Juli 2013

Inilah Sedikit Cerita di 'Bank Sentral' Indonesia


Nampaknya tak adil jika pengalaman ini tak pernah dibagi untuk menjadi motivasi bersama. Pengalaman yang tak boleh dilewatkan oleh siapapun yang memiliki cita-cita yang sama untuk menjadi bagian dari Bank Indonesia, meski hanya sekadar kerja praktik. Begitu berkesan, sehingga harus dituangkan untuk menjadi secercah inspirasi bagi yang lainnya. :)


Pernah di tulisan yang sebelumnya, saya bercerita mengenai Hadsen teman magang saya di BI yang berasal dari universitas yang berbeda? inilah orangnya...

Yang berdiri di antara saya dan Hadsen adalah Ibu Ajeng, tapi sebenarnya, Bu Ajeng lebih suka jika beliau disapa dengan sapaan Mbak Ajeng. Toh, beliau masih sangat muda dan masih single loh... :)
Mbak Ajeng adalah orang yang begitu berperan dalam goresan pengalaman saya yang sedikit ini ketika magang di Bank Indonesia, disebabkan proposal magang saya di BI diterima pertama kali oleh beliau, mengingat beliau adalah asisten manager SDM pada BI Wilayah VII. Beliau begitu cekatan, namun tetap teliti dan ramah pada siapapun. Mbak Ajeng jugalah yang selalu memberikan pengarahan dan pengingat reguler mengenai pelaporan kegiatan kami selama magang di Bank Indonesia. (Thanks a Lot loh buat Mbak Ajeng)

Sedikit saya akan bercerita mengenai Bank Indonesia Wilayah VII Sumatera Selatan. Inilah Bank Indonesia Wilayah VII:


Kenapa BI hadir di Sumatera Selatan - Palembang?

Lahirnya Bank Indonesia tak terlepas dari hadirnya Belanda di tanah air. Bank pertama yang didirikan Bangsa Belanda di nusantara ialah De Bank van Leening  tahun 1746 di Jawa. Yang kemudian menjadi De Bank Courant en Bank van Leening pada 1752. Bank ini diyakini menjadi cikal bakal perkembangan bank pertama di nusantara. Tahun 1828, tepatnya tanggal 24 Januari, barulah De Javasche Bank, akrab disebut DJB. Dengan fungsi sebagai sirkulasi, mencetak dan mengedarkan uang. Khusus kantor De Javasche Bank Cabang Palembang, dibuka tanggal 20 September 1909. DJB ini merupakan bank niaga, kantor cabang (Agentschap) ke-16 dari DJB pendahulunya.
Gagasan pembukaan kantor cabang di Palembang muncul ketika Direktur EA Zeilinga Azn melakukan perjalanan dinas 3 September 1908. Mulai dari Padang, Bengkulu, Rejang Lebong, Kepayang, Tebing Tinggi, Keban, Lahat, Muara Enim, dan akhirnya ke Palembang. Di Palembang, Zeilinga melihat fakta, kota Palembang merupakan kota perdagangan yang penting dan ramai dengan aktivitas, baik dari kekayaan perkebunan, tambang hingga minyak bumi. Sampai di Batavia, hal ini dilaporkannya kepada Direksi DJB. Kemudian, direksi memutuskan membuka dengan resmi Kantor Cabang De Javasche Bank di Palembang tanggal 20 September 1909. Pemimpin pertama DJB Palembang kala itu, BJ Schadd (1909-1910). Berdasarkan arsip yang disimpan BI Palembang, kantor pertama berupa rumah yang disewa. Terletak di Jl Sekolah (Scoolweg). Kemudian, rumah sewa tersebut, pada tanggal 29 Mei 1916 dibeli dari pemiliknya, Tjoa Ham Hien, seorang kapten tituler kaum Cina Palembang. Rumah sewa tersebut kemudian dibongkar untuk didirikan gedung kantor baru, namun terbuat dari kayu. Gedung kedua DJB merupakan gedung permanen yang dibangun tahun 1920. Gedung DJB ini terletak di kawasan Jalan Tengkuruk, atau di kaki Jembatan Ampera sebelah hilir. 

            Selain Belanda, Jepang tercatat pernah menguasai nusantara termasuk Palembang. Jepang mulai menduduki Indonesia sejak Februari 1942. Saat Jepang menduduki Indonesia ini, seluruh aktivitas DJB dihentikan. Fungsi dan tugas bank digantikan oleh bank Jepang. Seperti Yokohama Specie Bank, Taiwan Bank, dan Mitsui Bank. Bertindak sebagai koordinator adalah Nanpo Kaihatsu Ginko. 


Setelah penyerahan Jepang kepada Sekutu, keadaan tak menentu masih berlangsung sampai tanggal 10 Oktober 1945. Namun akhirnya, kantor Cabang Palembang dinyatakan dibuka kembali pada tanggal 1 Agustus 1947. Susunan kepemimpinan pertama adalah JB. Schadd (Pemimpin), dan MHA De Rooy sebagai Pemegang Buku/Pemimpin Cabang Pengganti Kantor Cabang. Untuk periode terakhir berdirinya DJB yaitu periode laporan tahun 1952/1953 pemimpinnya adalah J.C. Wink.


Setelah resmi menjadi Bank Indonesia (BI) tahun 1953, gedung kedua DJB yang berada di kawasan Jalan Tengkuruk dipindah, akibat terkena proyek jembatan Ampera yang terjadi tahun 1965. Untuk gedung ketiga, dipilihlah kawasan jalan Veteran hingga tahun 1971. Gedung BI Palembang kemudian dipindah lagi ke Jalan Merdeka kemudian pindah kembali dan terakhir barulah berlokasi tepat di depan RS RK Charitas. Tahun 2001, gedung BI kemudian direnovasi dan dibangun gedung baru. Tepat tanggal 30 Juli 2003, renovasi dan pembangunan gedung baru selesai. Gedung ini merupakan central para pegawai BI yang wilayah kerjanya mencakup provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) serta Bangka Belitung.

Bagaimana Kultur Kerja di Lingkungan BI Palembang ? 

Kultur Kerja Bank Indonesia Wilayah VII meliputi budaya disiplin waktu, religiusitas dan budaya keamanan. Adapun yang dimaksud dengan kultur disiplin terhadap manajemen waktu adalah setiap pegawai yang berada dalam lingkungan kerja Bank Indonesia Wilayah VII harus mematuhi jadwal kehadiran yang dimulai sejak pukul 07.10 wib hingga batas maksimal pukul 07.30 wib. Kehadiran didata dengan mesin kehadiran online yang akan langsung merekap waktu kedatangan karyawan. Di akhir jam kerja yang sekurang-kurangnya berakhir pukul 16.15 wib, dengan ditandai bel kepulangan pegawai. Dimana setiap pegawai yang pulang dan mengakhiri jam kerjanya harus kembali melakukan sign kepulangan dengan menggunakan mesin cek kehadiran online. Selain kehadiran serta kepulangan, sebagaimana perusahaan atau lembaga lain, Bank Indonesia Wilayah tujuh juga begitu memperhatikan ketepatan waktu dalam penyelesaiana tugas-tugas pekerjaan yang menjadi tanggung jawab masing-masing pegawainya. Kultur lain yang membuat Bank Indonesia semakin lengkap adalah kultur religi yang digambarkan melalui pengajian setiap Senin pagi yang dimulai pukul 08.00 wib hingga berakhir pukul 08.30 wib, yang wajib diikuti oleh setiap pegawai BI Wil VII yang muslim serta diisi oleh ustad-ustad kenamaan Sumatera Selatan, semisal ust Umar Said. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan semangat integritas dan profesionalisme pegawai-pegawai BI Wilayah VII. Setidaknya inilah yang diungkapkan Kepala Unit SDM BI Wilayah VII.

            Sebagai Bankers Bank, Bank Indonesia Wilayah VII dituntut untuk melaksanakan kontrol keamanan yang begitu baik. Dimana akses untuk menuju setiap ruang strategis BI tak dapat dilakukan oleh setiap orang. Hanya mereka yang memiliki izin dan kapasitas tertentu sesuai tugas dan perannya yang mampu menjangkau setiap ruang BI Wil VII. Hal ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan Identity (ID) Card yang dimiliki oleh masing-masing pegawai yang bersangkutan.

Pada Bank Indonesia Wilayah VII ada beberapa  divisi yang terkait erat dengan 3 fungsi (nantinya akan menjadi 2 fungsi) Bank Sentral; yaitu: ekonomi moneter, manajemen intern dan pengawasan bank inilah gambaran meja kerja anak2 magang di BI Wilayah tujuh saat saya berada pada Unit Statistik dan Survei (USS) yang merupakan salah satu unit yang berada dalam lingkup ekonomi moneter:

inilah struktur organisasi BI wilayah VII sebelum perubahan (ketika saya magang)



Selama berada di USS dan UKE ada beberapa kegiatan menarik yang saya kerjakan antara lain:
HARI DAN TANGGAL
KEGIATAN PRAKTIK KERJA
KETERANGAN
Senin
10-6-2013
Menjadi Asisten dalam pengecekan dokumen PDDN dan BSR UKE
Kelengkapan arsip sebelum dilakukan audit internal oleh DAI pada UKE
Selasa
11-6-2013
Melakukan input data kepuasan pelanggan KER dan turut hadir dalam kunjungan IAIN Raden Fatah ke BI Wil VII
Kuisioner kepuasan pelanggan KER BI dan kajian Kebanksentralan serta perkasan BI
Rabu
12-6-2013
Menjadi asisten dalam mendeskripsikan beberapa profil pasar (Pasar Lemabang, Pasar KM 5 dan Pasar Cinde) di Palembang.
Membantu melengkapi wacana pengembangan web PIHPS
Kamis
13-6-2013
Membantu pengecekan kesesuaian pembukuan tata usaha BI Wil VII terhadap bukti potong PPh 21 dan 23 Direktorat Jenderal Pajak atas aktivitas BI Wil VII
Kelengkapan tarnsaksi dalam pembukuan tata usaha sebelum audit internal
Jumat
14-6-2013
Turut menghadiri diseminasi keuangan inklusif dan branchless banking BI kepada wartawan Ekonomi dan Bisnis Sumbagsel
Rencana BI dalam menghadirkan Bank tanpa kantor untuk masyarakat Indonesia

HARI DAN TANGGAL
KEGIATAN PRAKTIK KERJA
KETERANGAN
Senin
17-6-2013
Membantu melakukan penghapusan buku-buku lama BI Wil VII melalui cyber library
Buku lama dihibahkan dan dihapus dari daftar barcode dan daftar online perpustakaan BI
Selasa
18-6-2013
Menjadi asistensi dalam input data realisasi anggaran Kota Pagaralam
Input data dalam excel mengenai laporan realisasi anggaran Kota Pagaralam.
Rabu
19-6-2013
Menjadi asisten dalam entry data buku-buku baru BI Wil VII pada syber library
Buku-buka yang telah dihibahkan digantikan dengan buku-buku baru yang lebih update dalam syber library.
Kamis
20-6-2013
Membantu merapihkan surat-surat pemberitahuan pelaksanaan survey BI Wil VII kepada di Sumbagsel
Surat-surat berisi pemberitahuan pelaksanaan survey konsumen
Jumat
21-6-2013



Senin
24-6-2013

Selasa 
25-6-2013


Rabu
26-6-2013


Kamis
27-6-2013

Jumat
28-6-2013
Mengikuti sosialisasi enumerator survey pemantauan harga (SPH) USS bersama mahasiswa/i STIE MUSI dan UNSRI


Membuat laporan minggu akhir di Bank Indonesia

Melaporkan laporan kerja praktik pada unit sumber daya manusia BI wilayah VII


Membantu input data APBD Kabupaten Lahat & Pagaralam guna kepentingan statistik

Membantu belanja buku buku Ekonomi Bank Indonesia bersama kepustakaan BI

Mengikuti Kegiatan Pelepasan PCPM dan Pegawai BI yang dimutasikan
Pergantian enumerator dalam survey pemantauan harga (SPH)

Kewajiban seluruh peserta magang

pada bagian SDM sembari pengkoreksian lapora magang
Menjadi asisten unit statistik dan survei


Asisten kepustakaan

Akhir magang




apa itu USS dan UKE??

Praktik kerja di minggu pertama yaitu pada 10 – 14 Juni 2013, penulis ditempatkan pada divisi ekonomi moneter tepatnya di unit kajian ekonomi. Unit kajian ekonomi adalah unit kerja divisi ekonomi moneter yang memiliki tugas mengkaji perkembangan inflasi daerahSumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), melakukan pengkajian terkait Produk Domestik Bruto Sumbagsel, menganalisa surplus defisit komoditas strategis yang ada di wilayah Sumbagsel, melakukan prmodelan dan proyeksi makroekonomi regional (REMBI) wilayah Sumbagsel, serta memberikan supporting riset terkait pelaksanaan perluasan akses keuangan (financial inclusion) yang mana sumbagsel adalah salah satu wilayah yang ditunjuk sebagi pilot project branchless banking.

Adapun produk pokok Unit Kajian Ekonomi (UKE) meliputi, 1. Kajian Ekonomi Regional (KER) yang merupakan laporan serta kajian perekonomian regional wilayah sumbagsel yang menjadi sumber informasi bagi seluruh masyarakat umum serta pihak-pihak lain yang berkepentinga. Dalam KER disajikan pulan analisis mengenai inflasi yang terjadi di wilayah Sumbagsel, pertumbuhan ekonomi wilayah, pendapatan masyarakat serta beragam informasi terkait komoditas barang atau jasa yang diproduksi maupun dikonsumsi masyarakat di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). KER merupakan kajian triwulanan yang dapat diakses langsung melalui website Bank Indonesia yaitu www.bi,go.id pada bagian publikasi atau melalui perpustakaan Bank Indonesia Wilayah VII yang menyediakan hardcopy KER dari seluruh regional termasuk Sumbagsel. 2. Prima (Pantauan Berita Media) yang dikirmkan melalui email konsumenBank Indonesia maupun pegawai Bank Indonesia wilayah VII. 3. Website Pusat Informasi Pangan Strategis (PIHPS) yang bertujuan mencegas disparitas harga pangan antar daerah serta antar produsen dan konsumen.  Pengembangan program ini pula bekerja sama dengan Pemprov Sumbagsel.

Pada minggu kedua praktik kerja di Bank Indonesia Wilayah VII Palembang, tepatnya pada tanggal 17 – 21 Juni 2013 penulis ditempatkan di Unit Statistik dan Survei. Berdasarkan Surat Edaran (SE) No. 9/12/Intern tanggal 30 Maret 2007 yang kemudian diperbaharui oleh SE No. 9/24/Intern tanggal 26 Juni 2007 dan SE No. 12/60/Intern tanggal 7 Sepetember 2010, maka tugas dan produk pokok unit ini disajikan pada tabel berikut:

Tabel 2.1: Tugas dan Produk Pokok Unit Statistik dan Survei
NO
Tugas Pokok
Produk Pokok
1.
Menerima, memverifikasi, mengirim ke kantor pusat, menatausahakan dan memberikan bantuan teknis laporan bank dan non-bank
Laporan Bank Umum (LBU), LAporan Berkala Bank Umum (LBBU), LAporan BPR (LBPR), Laporan Keuangan Bulanan dan Kegiatan Usaha Perusahaan Pembiayaan (LKBPP), Sistem Informasi Debitur (SID), Lalu Lintas Devisa (LLD).
2.
Mengumpulkan dan menyusun data/informasi ekonomi, keuangan, perbankan dan demografi di wilayah kerja
Data statistic seperti: PDRB, APBD, inflasi, dan kepedudukan/ketenagakerjaan.
3.
Melakukan kegiatan survei untuk kepentingan kantor pusat dan KPw
Hasil-hasil survey Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), Survei Konsumen (SK), Survei Penjualan Eceran, Survei HArga
4.
Melakukan kegiatan Liaison dalam rangka pengumpulan data dan informasi dari pelaku ekonomi (perusahaan, lembaga riset, pemerintah, perbankan dan asosiasi).
Analisis singkat (Diary Notes) kunjungan Liaison, resume analisis gabungan hasil Liaison, database dan informasi Liaison ke KP.
5.
Mengelola dan mengembangkan database informasi perekonomian daerah.
Database perekonomian daerah, termasuk SEKDA.
6.
Melaksanakan fungsi sebagai pusat informasi.
Pelayanan informasi data nasional dan regional meliputi:
-          ekonomi keuangan
-          bisnis dan perbankan
-          pinjaman luar negeri
-          demografi
7.
Melakukan koordinasi dengan KPw-KPw di wilayah koordinasinya dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas statistic dan survey.
Terlaksananya koordinasi kegiatan statistik dan survei
8.
Melaksanakan pengelolaam perpustakaan dan mengkoordinasikan pengembangan perpustakaan KPw-KPw di wilayah koordinasinya.
a.     Pengelolaan perpustakaan:
1.      Pengadaaan koleksi perpustakaan: buku, jurnal
2.      Pengelolaan koleksi: katalogisasi, klasifikasi, operasional cyber library.
3.      Pelayanan perpustakaan sirkulasi koleksi, promosi perpustakaan
4.      Pengembangan perpustakaan kerja sama perpustakaan
5.      Pemeliharaan dan penghapusan koleksi perpustakaan.
b.    Koordinasi pengembangan perpustakaan KPw-KPw di wilayah koordinasinya.

ada juga foto saya dengan kakak2 PCPM (Kak Dinda (tengah) dan Kak Rena (Kiri) )

Dan beberapa foto terakhir saat pelepasan kakak2 PCPM dan pegawai yang dimutasikan:



Setelah di Bank Indonesia Wilayah VII, saya kemudian melanjutkan proses magang ke salah satu BUMN di Kota Palembang. Ya, PTSB.. Apa itu? saya akan share di cerita selanjutnya.. :D



readmore »»  

Senin, 17 Juni 2013

You Have a Seat in BI (Bank Indonesia) Palembang

Ga pernah kebayang bisa masuk ke gedung BI. Bukan sekadar masuk, tapi sit in dan stay behind the table, bercengkrama dengan staf-staf di sana, juga yang ga kalah keren adalah punya kesempatan untuk kenal dan tahu lingkungan kerja Bank Indonesia Palembang. Ya, pilihan buat magang yang tepat banget sepertinya. Baru seminggu di sini, sudah banyak banget pengalaman dan ilmu-ilmu baru. Mulai dari mengenal anak-anak atau bolehlah disebut kakak2 PCPM 30 BI, sampai audiensi wartawan ke Bank Indonesia juga menyambut kunjungan universitas-universitas di Palembang untuk mengkaji mengenai kebanksentralan dan perkasan BI. Benar-benar memukau, ilmu-ilmu baru yang ditawarkan BI benar-benar TOP. Dan yang membuat begitu menyenangkan adalah tak banyak mahasiswa lain yang mengajukan praktik kerja (magang) mereka ke lingkungan Bank Indonesia (BI). Padahal sumpah, di sini benar-benar asik kok. Alhasil.. perhatian para pegawai BI hanya tertuju kepada kami (anak-anak magang), karena toh para pegawai BI suka pada orang yang ingin banyak belajar seperti anak-anak magang misalnya. Ya.. saya dan satu teman saya lagi dari universitas yang berbeda adalah Hadsen (mahasiswa Matematika ITB yang juga sekarang semester 6 baru mau ke semester 7, yang juga sama seperti saya), hanya kami yang mengajukan magang di BI tampaknya, karena tak ada yang lain selain kami berdua. Namun saya dan Hadsen magang di unit yang berbeda meski satu divisi yaitu divisi moneter. Saya di UKE (ekonomi) dan Hadsen di KSS (statistik). Bahkan magang di BI dan tepatnya di UKE (Unit Kajian Ekonomi) yang sekarang saya tempati, tepat dan pas dengan hobi saya dan teman-teman di progres, ya.. apalagi kalau bukan tentang menulis paper. Dan magang di BI pada semester ini benar-benar membuka wawasan dan cara pandang saya. Memang benar kata pepatah, lingkungan akan membawa arah kita kemana . :)

Ketika di kampus dan sedang ada project paper, pasti meng-unduh data dan statistik kekinian tentang Indonesia, ekonomi, warta bisnis dan perkembangan perbankan pasti ke website (sources) yang absah dan mutakhir. Nah yang paling jadi favorit adalah web nya BI. Alhamdulillah saat magang di sini, Allah memberi kesempatan kepada saya untuk mengenal orang-orang yang benar-benar berpengaruh signifikan pada perkembangan web ini, dan ternyata orang tersebut menjadi pembimbing saya ketika magang di BI sekarang. Sungguh di luar dugaan saya. Saya bisa directly bertanya dan diskusi  dengan orang yang handling semua perkembangan web favorit ketika buat paper. Ya, mbak Adela, beliau biasa dipanggil dengan sapaan Dela, beliau aktif dalam produce KER (Kajian Ekonomi Regional) yang membahas lebih spesifik terkait perkembangan perekonomian wilayah Sumbagsel termasuk Palembang. Wawasan mbak Dela yang luas dan presentasinya yang begitu memukau saat memaparkan konten-konten apa yang akan ia tulis, benar-benar membuat saya dan peserta lainnya kagum. Nah, itulah untungnya magang di BI, kita (re: anak-anak magang) tidak akan kesepian untuk mencari topik diskusi dan ngobrol, karena pegawai-pegawai BI rata-rata berusia muda dan fresh graduated serta anak magang akan selalu diikutsertakan pada setiap kegiatan BI sesuai bidang yang kita tempati. Misalnya saja UKE, di unit ini anak-anak magang UKE akan diikutsertakan dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan Unit Kajian Ekonomi. Ngomong-ngomong tentang pembimbing magang saya Mbak Dela, ya Mbak Dela benar-benar memotifasi saya sebagai kaum wanita untuk semangat berprestasi dan jangan sampai kalah bersaing dengan kaum laki-laki yang juga termasuk dominan di BI. Selain mbak Dela, ada lagi mbak Dinda. Baik Mbak Dela maupun Mbak Dinda adalah bibit-bibit unggul yang memang disiapkan untuk menjadi calon pimpinan BI nantinya. Saya tahu itu karena sempat diceritakan oleh Pak Roni (Asisten Direktur UKE) yang juga merupakan atasan Mbak Dela dan Mbak Dinda, saat pengarahan di hari pertama magang minggu kemarin.

Mbak Dela dan Mbak Dinda masuk BI melalui jalur PCPM (Pendidikan Calon Pegawai Muda Bank Indonesia) yang sekarang telah sampai pada angkatan 30. Kalau di perbankan, pendidikan sejenis PCPM biasa disebut ODP (Officer Development Program) yang siapapun pasti tau, kalau yang tembus tes tersebut, setelah OJT (On JobTtraining) pasti langsung menempati posisi managerial dan tidak lagi setara staff biasa. Dan kakak PCPM 30 angkatan Mbak Dinda orangnya bener-bener hebat secara kelimuan. Ketika ngobrol dengan mereka saya tau bahwa background mereka dominan berasal dari beragam universitas-universitas TOP di Indonesia yang tersebar dari Sabang samapi Merauke. Wawasan mereka luas, komunikasinya begitu baik dan ramah. Banyak pelajaran yang saya petik dari mereka semua. Mbak Dinda asli Cilacap dan merupakan tamatan UI tahun 2011 dengan jurusan yang sama dengan saya, Akuntansi. Sebelum lulus di BI, ia telah bekerja sebelumnya sebagai junior auditor di E&Y (KAP multidimensional dan termasuk the big 4.. keren banget dah), Mas Yoga dari IM Telkom dan asli Bandung, Mbak Rena anak Teknik Informatika Indo Global Mandiri (IGM) yang juga asli palembang tamatan 2011.Sebelum di BI, Mbak Rena telah diminta menjadi dosen TI di IGM oleh beberapa dosennya. Keren banget dah pokoknya, banyak ilmu-ilmu baru dari mereka kakak PCPM 30. Mereka semua masih OJT di BI Palembang, dan anak-anak PCPM harus menerima penempatan yang telah ditentukan BI dan tak dapat memilih. Inilah konsekuensinya. Oleh karena itu, mereka menyebar dari Sabang sampai Merauke.

PCPM akhirnya menempati ruang hati saya untuk menjadi target yang patut direncanakan sebelum dan setelah lulus S-1 nantinya. Setelah mendapat info dari mereka (kakak2 PCPM 30) dan searching di internet, saya jadi tahu sedikit mengenai seleksi PCPM bahwa PCPM bukanlah seleksi yang mudah. Ada 8 tahap yang harus dilalui selama lebih dari 8 bulan masa tes. Jadi harus menjalani runtutan tes-tes yang hampir satu tahun lamanya, jika terus lolos seleksi. PCPM biasanya dimulai sejak awal Bulan Januari hingga berakhir diawal Bulan September, woww.. That's really-really uwaaww.. Tes-tesnya pun ada yang biasa dan kebanyakan tidak biasa. Itulah mengapa kakak2 PCPM memiliki komunikasi verbal yang baik dan kemampuan teoritis dan analitis yang luar biasa, karena tesnya melingkupi hal-hal tersebut yang tentu tak hanya fokus pada hard skill namun juga soft skill. Ih serem deh ya kalo dibayangin, tapi sayangnya PCPM bukan buat dibayangin guys, tapi kudu dijalanin by perencanaan yang mantap (sepertinya) ;). Ih, jadi pingin persiapan yang matang dari sekarang dan lulus S-1 cepet biar bisa ikut PCPM dan jadi seperti kakak2 itu. Bismillah.. :D

Terakhir.., magang di Bank Indonesia Palembang ga buat nyesel deh.. Selain bisa untuk belajar banyak, juga bisa pulang ke kampung halaman.. :D
readmore »»  

Sabtu, 15 Juni 2013

Berfikir (lagi)

Semangat dalam melakukan sesuatu pasti ada penyebabnya. Semangat karena ada tujuan yang ingin dicapai, ada tujuan ada impian. Tapi ketika tujuan itu hilang, maka hilang juga semangatnya. Tak ada yang ingin dan bisa dilakukan (lagi). Ini terkait hal-hal yang begitu sensi kalau dibahas umum. Hal yang sering terfikir tapi kadang kala hilang tapi akhirnya muncul kembali. Nelangsa yang jauh tentang harapan yang tak pernah bisa diharapkan.

Sebelum pergi dari zona yang selalu membuatmu terus merasa nyaman, penuh kebahagiaan dan merasa sudah banyak hal-hal yang menyayangimu adalah keputusan yang sulit. Ketika mencoba pergi dari zona itu, jangan fikir kau tak akan pernah merindukan zona itu lagi, suatu saat takdir akan mengembalikanmu. Tapi, ketika kau kembali, semua unsur dalam zona tersebut belum tentu menerima kau kembali sama. Kau telah asing bagi mereka bahkan mungkin bukan bagian mereka lagi, mereka lupa kau pernah ada, pernah menjadi mereka. Jadi wajar jika tak ada bagian yang kecil untukmu lagi selain ruang lingkup yang lebih sempit. Tak usah ditangisi, itulah keputusan. Kau akhirnya makan si malakama yang tadinya sedikitpun tak kau timbang bobot dan pahitnya. Kau ingin kembali tapi terusir dan ingin pergi tapi menginginkan melepas kekangenan. Iya, kau harusnya berfikir (lagi) di awal yang akan membuatmu piawai lebih dini, bijak tapi bukan tua.

Seperti racun yang asing, kau tak diinginkan. Semua serum tubuh tak memberi mu ruang untuk bertahan lama, kau hanya diberikan waktu senggang yang sebentar sebelum cairan-cairan kekebalan merobek-robek keberadaanmu. Kau hanya punya waktu sebentar untuk berfikir dimana tempat membuang diri yang paling jauh, hingga bayanganmu tak mampu mengejar lagi. Jika boleh memilih aku mengingini tak ada bercak hitam, tapi itu bukan hidup, bercak hitam yang selalu melekat membuat penanda diri yang paling pasti. Semua melihat pada tanda hitam itu, padahal ada sisi putih lain yang lebih banyak sebarannya, tapi mereka tak mau berfikir (lagi) tentang hidup, tentang mati, atau tentang apalah...

Kadang lelah menunggui hidup, kadang puncak tak tau lagi hendak tinggi didaki. Semua sudah kelelahan. Rasanya harapan itu usai, tapi menyerah hanya bagi mereka yang tak memiliki iman. Biarlah sulit setengah hidup, tapi inginnya posisi ini tetap dekat dengan cahaya, meski redup cahaya teplok, tapi tetap mungkin menunutun hingga tapal batas yang tak bisa diterka mulai kelihatan ronanya. Janganlah sedih.. biarlah mereka menikmati senyum ini yang memang tak indah, biar mereka berfikir kebahagian bagi siapapun itu yang mengingini, semua berhak atas kebahagiaan yang dapat kau beri, meski tinggal sedikit. Siksa dan luka untukmu sendiri, tak ada yang akan membantu meminggul dosa. Aku malu menghadapNya tanpa membawa bekal, tapi aku tak mau bercak hitam terus tumbuh dan membawaku semakin dekat pada jurang terjal yang curam. Aku harus berfikir (lagi) andai waktu bisa ditawar, aku memilih kembali dekat padaNya tanpa dramaga fana ini. Tanpa stasiun yang singkat ini, Tanpa bandara yang tak tahu kapan panggilan boarding pass. Aku ingin dekat denganNya tanpa fatamorgana...

Aku rindu saat itu, saat aku masih bisa ada dan merengek. Aku rindu saat kau menangis untukku, atau saat kau ingin aku mengikuti semua yang kau pinta, jika tidak, tarunglah. Jotos-jotosan.. aku rindu saat menggendong melihat bola kampung di lapangan. Aku rindu saat mendengar dongeng-dongeng jadul di kala malam selepas isya dan makan.. aku rindu saat dering telepon menanyakan dimana, kapan, dengan siapa. Aku rindu celotehanmu menunggu aku bergegas sarapan. Aku rindu rebutan alat-alat sekolah dan rumah. Aku rindu makan siang bersama dengan canda. Aku rindu jalanan penuh sesak pasar. Aku rindu kau buatkan roti isi, atau koran-koran sripo yang sengaja kau taruh sebagai pancingan aku membaca. Aku kangen main kembang api yang itu, yang kau celotehi kami karena berisiknya. Aku rindu compang-camping jiiidd.. aku rindu legenda pak belalang dan malin kundang. Aku rindu tangisanmu untuk dijemput, untuk diajari perkalian. Aku kehilangan momen itu ketika ku pilih ini dan itu. Aku ingin kalian ada. Itulah mengapa ada pungguk merindukan kandangnya yang jauh di hulu. Tapi biarlah aku jadi jelantik yang hinggap di dahan yang tak kokoh, agar tenggernya sebentar. Tukar saja, tukarlah sehat ini. Tukarlah separuh, agar itu ada lagi. Tukarkan dengan lebih banyak tawa, daripada 1000 derita. Tukarlah dengan mimpi yang tinggi, dari pada gelap yang menakutkan...Meski ada namun tak tampak, entah ada atau hanya tinggal cerita...
Sejenak aku berfikir (lagi)
readmore »»  

Rabu, 01 Mei 2013

10 Things I Wish I Did in University


when I was browsing in the internet. I found the inspire blog belongs to Himawan Nugroho. I will share it here.

The Indonesian named Himawan is the CISCO global consultant team (the largest programmer company in Dubai). He is also the founder of GEM Foundation.


He inspired me by his blog posting titled " 10 things i wish i did in university":
He revealed that he was so disappointed due to lack of doing those in the university, actually. He claimed, he would be more lucky if those done completely in the university though so many people think Himawan already success now, but he said, "I'l be more if I strive to do more."

So, here it is: " 10 things I wish I Did in University"

1. Make more mistakes. Take more risks



School is the best place to make mistakes. The worst thing can happen is to fail a subject and repeat it again in the following year. Make mistakes as professional has more implication and business impact. I wish I made many more mistakes and took more risks as a student.

(yup, Himawan totally right, Guys. Don't worry to make more mistakes when we are studying. People  look at you as a student, that's our time to try every positive thing in this life. Explore more and get more. Always say yes to the positive one and neglect the worst. Say yes to the new place, new people and new opportunity. Sometimes we fail to learn more, since the success man experience it!)

 2. Find the one thing I love, earlier


After figure out that many people who change the world are the one who work on the thing they love, I wish I spent more time to find the one thing I love when I was a student or much earlier.

(exploring  what do I want to, who am I then how could I make it come true are really important )

3. Work hard on things that matter

Once I knew the thing that I love doing, I would be focusing my self to start preparing and pursuing it as early as possible. I would work hard on things that matter that made me closer to achieve my desire.

(if your dream bigger, you should work harder. Make sure that we are able to survive reaching what you want to. Don't you?)

4. Always finish everything I start

Good thing I finished my Mechanical Engineering degree, even in the middle I knew the subject was not something I would like to do to make a living. There were many more things I wish I finished. I wish I always delivered and made it as habit to finish everything I started.

(by starting everything means we are ready in facing the responsibility  to finish it completely. Not to be faster, please being slowly but sure)

5. Make more networks 


Human networking is one main key to success in global competition. Some said, it's who you know not what you know. I wish I spent more time to make more networks, beyond my department, beyond my city, with all professionals across the globe who work on the field that I wanted to be, even when I was still in university. 

(Yaa, I do want to meet so many people, chatting, discussing, creating wider network, then get so many friends.)

6. Take more leader positions 


Now I know global market seeks for leader not follower, I wish I took more leader positions as a student. I wish I joined many organization and be the leader. To learn that it's not easy to become one, to make hard decision, to assume responsibilities and to delegate works.

(though it's not easy, I think I should attempt to try this somehow)

 7. Do more communication. Do more presentation 

I wish I did more presentation in English in university. I wish to be brave enough to stand up and voice my opinion if I believed it was right. It's better to be a laughing matter at school instead of as professional who faces difficulty to speak in public just because lack of practices. 

(I think this is my special talent that I have to maintain well, since so many people are afraid to do this point, otherwise, I like it so much)

8. Manage money wisely 

Invest money as early as possible is always a good idea. And if I had managed my money from young, I would learn how to do budgeting, how to be more efficient, how to make decision in spending and many more that are essentials for global competition.

(this is a nice advice for shopping holic (maniac), ex: lady, motherhood, metro sexual man, etc. hoho. But personally, being so over in spending money is danger.

9. Contribute more to community

Most of us start working for profit, then for the one we are passionate about, and finally for a higher purpose. For me the higher purpose is to be useful for the community and people around me, no matter how small. I wish I contributed more to community, in any way, to make it as a habit and at the same time to have opportunity to make networks.

(i'm still learn on this. I think, I don't contribute anything yet to the community. I'll be more contributing. Insha Allah :) 

10.Travel the world


 I wish I spent time to travel the world since I was very young. So I would get used to see differences. So I could work and be with others who have different mindset, who come from different background. 

(yup, going to Mekkah, Maddinah, doing Hajj and seeking for huge hikmah (lesson) there is the greatest desire for every one especially muslim which I wanna make it come true. Beside those, I want to continue my study abroad and travel to every place I dream)

readmore »»  

Kamis, 14 Februari 2013

Nasihat Saudara dari Seribu Kata Bijak

WARNING!! ini adalah pesan yang membawa anda pada semangat tinggi (katanya). JANGAN DIBACA!! by: S.COM

KaMut Pilihan Anggota S.COM lepas semester kemarin. Saya berinisiasi mengabadikan kata-kata mereka agar mereka termasuk saya pun, selalu ingat apa yang kami ucapkan ini.
Salam Kenal "S.COM"
dari kami:

S.1 >> Jika ada 1000 pintu yang tertutup, maka jangan menyerah! Cobalah untuk membukanya. Karena pintu yang tertutup tak berarti ia terkunci.

S.2>> Harapan itu masih ada!

S.3>> Cobalah Seribu Kali 

S.4>> Cinta

S.5>> Waktumu masa depanmu!

S.6>> Hidup adalah belajar

S.7>> Play hard, work harder, pray hardest, love well

S.8>> Lakukanlah disaat semua tak bisa melakukannya. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang hebat, maka jadilah hebat!

S.9>> Hidup adalah pilihan, jadi pilihlah yang terbaik. Dan baikanlah pilihanmu!

S.10>> Terus jadilah yang terbaik!

S.11>> Meski mati satu, pasti akan ada tunas baru, 1000 banyaknya!

S.12>> (Selalu) Dekatkanlah dirimu pada impianmu!

S.13>> tak ada anggota yang bernomor ini, karena posisi ini direncanakan akan diduduki oleh S.BY ^.^ (KepPres S.COM noMore: XXX)

S.14>> Bermimpilah, karena Tuhan memeluk mimpi-mimpi kita (<---saya, karena KaMut ini begitu terpampang diingatan saya sampai detik ini).

S.15>> Power enter! Kekuatan 'enter button' yang ternyata luar biasa. Tak percaya? Buktikan, hanya tinggal TEKAN! Rencanakan, Pilih Strategi, LAKUKAN! (dapat mengenyampingkan 2 langkah awal. Tinggal TEKAN)

DK I>> Just do it!

DK II>> Jadilah pendaki! Jangan menyerah, jangan mengeluh! Meski lelah berpeluh, terus hingga PUNCAKMU!
readmore »»  

Rabu, 13 Februari 2013

Salam Sapa 2013

 sumber gambar: http://1.bp.blogspot.com

Waduh, rasanya telat sekali kalau akan menyapa 2013 di Bulan Februari..hihihi. Tapi yah beginilah nyatanya. Saya baru bisa menulis lagi di blog ini setelah satu tahun (re: Desember 2012-Februari 2013) tidak menelik keadaan serpihan jendela dunia kecil ini. Maklum, di awal tahun saya geger menyiapkan UAS di sekolah saya. Geger? ya, geger.. itulah kata yang biasa dilontarkan orang-orang yang tidak selalu siap ujian seperti saya, yang ini pamilih kalau dicontoh ya! Tapi bukan itu saja yang menggegerkan, ada hal-hal lain yang faktanya juga hampir menggegerkan semua mahasiswa. Dikarenakan ada beberapa sistem UAS di 2013 yang memang sedikit dimodifikasi, ya tidak juga sedikit sih namun begitu signifikan lebih tepatnya. Mana lagi timing UAS begitu ber-saf dengan tahun baru, yang kebanyakan orang biasanya libur atau bersenang-senang ya bisa dikatakan merayakan atau bagi yang tidak merayakan  pasti terbawa suasana histeria juga. Tapi, disaat-saat itulah saya dan teman-teman malah sibuk membuat berbagai resume dan salinan formula mengenai beberapa materi UAS dan juga beberapa translate jurnal yang menjadi tugas akhir. Maka dari itu izinkan sederet alasan diatas menjadi alasan atau kompensasi bagi saya yang tak juga sempat menyapa blog ini. Walau bagaimanapun kalau kita bahas-bahas UAS di dunia yang begitu menyenangkan ini rasanya sangat-sangat tidak menyehatkan, hehe.. Jadi?..Yah sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu, toh KHS juga sudah bisa diakses dan mempertontonkan secara masif hasilnya.

Ngomong-ngomong, terhitung tanggal 3 hingga tanggal 12 Bulan Januari kemarin, saya memang sibuk dengan perang tulis UAS, habis cerita, di tanggal 14 saya terbang ke Palembang untuk liburan semester. Tidak banyak yang saya kerjakan di tanah Sriwijiaya, hanya melepas rindu untuk orangtua dan saudara-saudara terhebat saya. Memberi sedikit bimbel beberapa pelajaran yang masih saya ingat kepada adik bungsu saya yang Bulan April ini akan menjalankan UN SMP. Kita sama-sama doakan dia sukses dan bisa masuk SMA Rayon yang dia inginkan. Begitupun untuk abang sulung saya, yang juga di 2013 sedang sibuk-sibuknya menyusun skripsi. Dia mentarget di akhir tahun sudah bertoga ria dan lanjut mengincar salah satu BUMN ternama di Palembang. Lagi-lagi untuk dua hal hebat ini, saya sebagai adik hanya bisa memberi semangat dan dukungan kepada beliau dan juga tentu doa bagi dua saudara hebat saya untuk sukses di tahun 2013 ini. Semoga semua berjalan lancar sebagaimana harapan keduanya.

Kurang lebih tiga minggu saya di Palembang, saya kembali terbang ke Bogor untuk bersiap memulai kuliah, karena hari Senin kemarin (re: 11 Februari) perkuliahan sudah dimulai kembali. Tadinya saya ingin pergi ke Bogor sendiri, tapi apa daya, ibu meminta ayah untuk membelikannya tiket beserta abang saya untuk liburan singkat di Bogor dan tinggal bersama saya di kosan di Sentul. Yahh, apa boleh buat, meski saya benci sekali diperlakukan masih seperti anak-anak karena harus diantar hingga ke Bogor, tapi sebenarnya saya sangat suka kalau ibu ingin turut bersama saya melihat kondisi kosan dan memeriksa lingkungan belajar saya di pulau seberang. Akhirnya, ikutlah abang dan ibu saya ke Bogor tanpa adik dan ayah, karena adik sudah mulai sibuk dengan bimbel-bimbel dan jadwal tambahan di sekolahnya, dan tak tega ayah meninggalkannya sendiri sekaligus berharap isteri tercintanya bisa sedikit refreshing dari aktivitas rumah-tangga, ini bonus dari ayah untuk ibu.

Sesampai di Bogor, ibu banyak sekali komentarnya terkait kamar kosan, lokasi kosan dan semuanya. Beliau tanya semua yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari saya dan apa saya betah tinggal dan nge-kost disana. Entah apa yang begitu membuat ibu khawatir. Padahal lokasi kost yang saya pilih, ya saya pilih sendiri, begitu dekat lokasinya dengan kampus, harga terjangkau dan kebutuhan bisa dipenuhi di sana, meski sederhana. Keesokan harinya, ibu meminta saya untuk menyewa mobil yang bisa dipakai keliling Bogor bersama saya dan abang. Saya sms sana-sini tanya ke teman sewa mobil terdekat di Sentul dan harganya untuk dipakai seharian keliling Bogor. Teman saya banyak merekomendasikan ini-itu nama-nama rental mobil. Setelah merasa yakin, saya putuskan untuk menyewa sebuah mobil Daihatsu yang cukup bagus dengan harga pas Rp250 ribu seharian dari pukul 09.00 pagi hingga 21.00 malam. Abang saya bersiap menjadi supir eksklusif ibu hari itu juga dengan riding mobil hitam ini berdasarkan destinasi yang ibu inginkan.

Tadinya, saya mengira ibu hanya ingin jalan-jalan dan beli oleh-oleh, mulai dari lapis Bogor, Brownies Amanda, dan Roti Unyil serta asinan Bogor. Tapi ternyata di akhir perjalanan, beliau malah meminta abang untuk berhenti di salah satu showroom motor di daerah Sempur Bogor. Saya bingung, kenapa beliau semangat sekali. Saya pun ikut saja mengekor kemana ibu pergi. Hmmm... entah saya harus kaget, senang atau malah sedih. Ibu, membeli satu unti kendaraan roda dua matic berwarna putih. Harga motor di Palembang dan Bogor ternyata memang beda, Bogor menawarkan harga lebih murah terpaut satu juta jika dibandingkan di Palembang untuk motor dengan jenis dan merek yang sama. Saya geleng-geleng kepala. Untuk apa ibu membeli motor? tanya saya dalam hati. Sepanjang jalan sepulang dari Sempur, ibu banyak menasehati saya untuk hati-hati berkendara di Bogor, dan baik-baik menggunakan motor itu. Ibu meminta saya segera belajar selama sisa dua hari lagi beliau di Bogor bersama abang. Beliau juga meminta saya untuk mengurus surat-surat, ijin mengemudi sendiri di sana dengan meminta bantuan juga pada Pak Kost. Saya benar-benar kaget setengah hidup. Sungguh, sejak SMA sampai sekarang saya benar-benar kagok bawa motor, oleh karena itu ayah tak pernah mengijinkan saya membawa motor ke sekolah. Tapi sekarang saya harus berkendara roda dua itu jauh dari mereka dan mengurusinya sendiri. Tapi, di samping itu saya senang, karena berarti orang tua saya telah percaya sepenuhnya kepada saya, dan mereka yakin saya tak akan pernah mengecewakan mereka, insyAllah..

Alhasil, dua hari belajar motor dengan abang, saya sudah cukup lancar membawa motor beat putih ini. Kakak meminta saya belajar yang rutin meski ia nantinya akan pulang. Saya terus mengangguk. Kakak mengatakan bahwa ibu selalu mencemaskan saya, karena selain kuliah, saya juga mengajar di salah satu bimbel di Sentul. Ibu berharap motor ini bisa memudahkan mobilitas saya. Itu yang kakak saya jelaskan. Saya mengangguk dan memperhatikan semua penjelasannya terkait penggunaan motor ini.

Empat hari sudah mereka pulang, saya sudah lumayan. Alin teman satu kost saya yang kemudian menggantikan kakak sebagai coach saya di lapangan guna menaklukan si putih. Biar lambat asal selamat, mungkin sekarang lambat, tapi insyAllah ke depan terbiasa. Itu yang dikatakan Alin pada saya. Hari minggu kemarin saya sempat nyungsep di parit dekat kosan karena slip. Hujan baru reda dan menggenangi beberapa ruas jalan, jadi yaa si putih menerobos jalan itu dan hasilnya kaki kiri saya memar ringan karena nyungsep di parit itu. Tak apalah, saya harus terus berlatih dan pantang menyerah biar si putih benar-benar takluk di tangan saya, InsyAllah.. :)

Yaa, demikianlah cerita di awal 2013 ini. Semoga ada hikmah untuk saya pribadi dan juga manfaat buat siapapun yang membaca :)
wassalam.. :D

readmore »»  

Sabtu, 15 Desember 2012

COWOK TUH-LALI-T!

Sebenernya, katanya, teorinya, ga boleh nih sharing yang ngeluh-ngeluh, karena bisa bikin diri sendiri lemah. Tapi mau gimana lagi dong? Kata Ibuk saya, kalo lagi ada unek-unek, harus diluapin bukan dilupain, karena unek-unek ini bisa jadi langkah awal stroke, hipertensi, jantung, kolesterol tinggi, kegemukan,dan..dsb (dan saya bingung) deh (yaelah, selain junk food yang dimakan saban ari ya, itu juga bikin obesitas sama kolesterol tinggi)  :D

Masalahnya gini. Kemaren tuh ya, kemaren. Mati gila. Saya di sms sama seseorang buat ngajar. Ngajarin bahasa Inggris. Meski bahasa Inggris saya juga standar-standar aja sih, sebenernya. Tapi ya udahlah, ya. Namanya mahasiswa tu, kudu dan harus berbagi ilmu walau sedikit. Sebelum ke masalah nih, saya cerita dulu ya. Saya emang dari semester dua kemaren emang udah ngajar, tapi level anak-anak SD gitu tuh, di salah satu bimbel di Bogor. Yah, itung-itung dapet pengalaman, penghidupan, kalo bisa kenalan (udah salah niat, makanya ga lama) Sebenernya ga juga sih, biar apal jalur angkot Bogor juga kali. Abisnya ya, nih kota angkotnya bejibun, banyakan angkot kali dari penumpangnya. Warnanya sama, bentuk sama. Gimana ga bingung, jadi sekalian ngajar, ya sekalian ngapalin jalur angkot, biar ga nyasar. Kan lucu kalo kuliah telat, pas ditanyain dosen, dari mana? jawabnya dari NYASAR, kan ga banget!

Balik lagi. Nah, merasa PD banget dengan tawaran ngajar tadi, akhirnya saya terimalah. Trus saya tanya tuh ke abang-abang yang sms. Ini ngajar siapa? Si abang-abang yang sms itu tuh salah satu manajemen bimbel yang saya ikut ngajar sekarang. Dia bales nih, kalo yang bakal diajarin tuh ibu2. Trus saya balik nanya lagi, "Banyak ibunya?" trus dia bilang, "Ga banyak juga kali, cuma satu". "Lah trus nulis ibu-ibu?" jawab saya. Dia jawab lagi nih, "Yaelah maksudnya ibunya ya udah jadi ibuk orang". Nah, saya tambah bingung dah sama bahasa si abang. "Yaudah deh ga penting banget dah, yang penting ngajar deh bang", bales saya ke abangnya. Trus dia bales pake ikon orang cekikikan ga jelas. Padahal menurut saya biasa aja deh!

Nih, si abang yang sms-an sama saya udah lumayan deketlah (re:ga usah pakek ciee). Saya sudah lumayan lama ngajar di tempat yang satu ini. Dari semester tiga, kalo ga salah, setelah udahan ngajar di tempat yang sebelumnya di semester dua. Jadi wajar kalo sms nya rada becanda. (padahal enggak juga, sih)

Terus, saya nanyain tuh, dimana tempat privatnya, di bimbelnya atau di rumah ibunya. Trus si abang bilang nih, "Ibunya mau mentor-nya (sebutan untuk guru privat) yang ke rumahnya"." Hmm..ya wokeh dah", saya bilang gitu ke abang tu. Trus saya minta nih jamnya di sesuai-in sama jam kelar kuliah saya kemaren, jam 2, saya udah kosong, ga ada jam lagi. Trus abangnya bilang, "si ibuknya fleksibel aja sih, situ bisanya kapan". Ya udah deh, tenang kan saya. Tak send, "okesip" ke si abang. Terus si abang sms lagi, "Alamatnya di (bla..bla..bla)". Itu si abang ga beneran sms kayak gitu tuh. Itu ceritanya lagi ngerahasiain alamat ibunya. Maklum privasi orang.

Trus ada sms lanjutan dari si abang, dia nanya masalah transport saya ke sana, gimana. Terus saya bilang, "Yaelah tinggal naek ojek kalo ke sana mah, bang. Kalo naek angkot ribet masuk kompleknya, kudu jalan lagi, terus nyari-nyari lagi, mana belom tau, pan susah ya. Yaudah deh bang, naek ojek aja ya". Saya bilang ke abangnya. Terus dia bilang "Ya oke". 

Selesai kuliah nih, saya cepet-cepet deh ke rumah si ibunya, takut telat. Nih si abang nge-sms lagi, nih. Dia bilang kelupaan buat bilangin kalo si ibu keyakinannya (*gama) beda sama saya. "Kalo situ perlu ada persiapan, persiapkan aja segala sesuatu", kata si abang. "Yaelah bang (saya geleng-geleng palak) emang mau perang pakek persiapan?" saya bales gitu. Si abang bales, "Yaa siapa tau atuh, neng". "Tau apa? udah deh". Saya bilang gitu.Terus dia bilang, "oke siap". "Kok siap", saya bales lagi. "Maksudnya oke sip, salah ketik," bales si abang. Nih, pasti si abang protes nih dalam hati, kok saya kritis banget. hehe Biarin aja, si abang abisnya, bahasanya gitu. 

Nih, sebenernya sms si abang tuh bener juga sih. Saya se-enggak-nya nih, siapin minuman ringan, takut keselek pas ngebahas bahan ajarnya ke si ibu. Saya beli deh minuman ringan.

Abis tuh, langsung saya panggil tukang ojek.
Tukang ojek depan kampus serem-serem ih mukanya, sangar. Cocokan jadi bodyguard deh ketimbang tukang ojek (hihihi). Yaudahlah ya, saya langsung aja teriak "ojekkk!" Mereka nyamperin. Ups, ini yg nyamperin saya beneran dah seremnya. Helemnya aja helem motor gede, tulisan harley, I'm The Rocker, gambar tengkorak. Tapi....
hmmm...

itu, motor yang dipake..

"scoopy pink"
yaelah bang, desis saya dalem ati.
"Bang, ke bla..bla..bla (nyebutin alamat ibu nya)"
"Siap.." kata si abang. Mukanya sangar (serem)..

Saya naek ke scoopynya deh. Terus motor "scoopy pink" nya jalan. 
Nih, dalem ati saya bilang, "mau ngobrol apa ya sama si abang?" Nih kalo ke alamat ibunya lumayan juga nih jauhnya, kalo diem-dieman, ga banget. Enakan ngoceh ketimbang bengong di motor kayak gini. 

Eh, si abang ambil jalur lurus, terus saya bilang. "Ga salah nih bang, ke sini?" si abang bilang "hem".
Yaelah, kok saya merinding gini. "Bang", saya bilang ke abangnya. "Ntar saya telat nih kalo lewat sini", kata saya ke abangnya (tapi saya bilangnya pelan karena takut juga sih ini)
si abang bilang "hem".
Nih, pirasat saya mulai jelek nih. Kenapa ini lewat jalan sini. Mana saya ga apal-apal banget dah jalan. Ini saya mau pingsan nih,  ke-inget berita yang kemaren saya baca. Penculikan, penodongan, pembawakaburan (yang satu ini ga ada sih sebenernya) tapi nyocokin aja sama kondisi saya sekarang.

Nih, jangan-jangan si abang modus nih bawa scoopy pink, biar tersembunyi identitas dia yang sebenernya. Saya, mulai jedag-jedug suuzon kemana-mana.

Terus si abang bilang, "neng, masih idupkan? diem aja neng". 
terus saya bilang, "eh, iya-iya.., kenapa bang?"
"Kok, diem? kita terlalu ngebut ya?" abangnya nanya.
"Saya takut nih bang", saya bilang ke abangnya.
"Kenapa? ngebut? terlalu ngebut?" 
"Yee, ga juga bang". (scoopy pink, biasa aja kali ngebutnya, saya komat-kamit dalam ati) 
"Terus kenapa?" kata abangnya penasaran.
"Saya takut nih, abang mukanya serem banget dah. Dari awal, ga senyum-senyum. Ganti bang ekspresinya, biar saya ga serem nih", kata saya ceplas-ceplos ke abangnya.
"Yaaahh, emang topeng ini muka, neng? bisa diganti segala", kata abangnya.
"Ya, abisnya" (kata saya pelan)
"Ini model muka udah dari sono-sononya. Muka boleh serem, tapi hati kan malaikat". Kata si abangnya nyengir cekikikan.
"Ehmmm, nih kalo malaikatnya serem begini, gimana setannya bang?" Saya ngasal. Si abang tambah cekikikan ga jelas. "Udahhh, neng ga usah takut, biasa aja kali". Kata si abangnya. "Saya emang serem, tapi begini-begini saya pencinta kucing, hati saya lembutt". Si abang ceramah.
"Yahh, apa hubungannya,bang? hati lembut sama pelihara kucing?" Saya garuk palak.
"Yahh, kan kucing imut". Kata si abang.
"Ga juga bang. Kalo kucingnya hobi cakar-cakar sama bejek-bejek muka sampe berdarah, ga juga imut." Kata saya ke abangnya.
Tuh si abang nanya, "emang ada neng?"
"Ada dong. Tuh, kucing utan sama kucing stress". Jawab saya PD
Nih, si abang malah ngakak ga berenti-berenti (padahal menurut saya biasa aja)

"Nih, lewat mana nih bang?" tanya saya.
"Oh, satu belokan lagi", kata dia.
"hmmm..."

ga lama setelah itu...

"Nih, alamatnya neng. Periksa bener ga?" tanya abangnya.
"Ohh, iya bener-bener", kata saya sambil buka kopelan alamat yang saya catet tadi.
"Udah nih, sampe. Selamat kan?" Kata si abang.
"Ya, nih bang" kata saya sambil nyodorin uang 10rb ke dia.
"Loh, kok segini?"
"Emang kenapa?" 
"Biasanya 15rb."
"Ga ah,, biasa saya ke sini juga segitu. Ini deket nih."
"Yahh,,, tambahin dah" 
"Yaelah,bang. Saya mahasiswa, mana ada uang banyak-banyak. Siapa suruh abang ambil jalan yang itu tadi, jadi kerasa jauhkan?" .
"Ga ada, ini ga cukup nih beli bensin". 
"Yahh, mana ada duit lagi ini bang. Ini nih 10 rb lagi buat balik. Kalo ke abang semua saya kasihnya, saya mau balik pake apa?" Kata saya sambil nunjukin uang 10rb di tangan. "Katanya abang hatinya lembut". Kata saya pelan. 
Nih si abang masih aja ngernyit dahi.
"Yaudah gini aja, bang. Ini tadi pas di kantin kampus sebelum berangkat, saya beli minuman ringan. Ini lebih nih dari 5rb doang."
"Hmm..gimana ya?" (abangnya sok jual mahal)
"Ya kalo ga mau ya udah." 
"Yadehh, siniii.." Kata si abang tanpa basa-basi.
"Huuu.. diambil juga. Itu minuman enak bang. Asli buatan Jepang" Kata saya sambil senyam-senyum (padahal itu minuman teh biasa yang ada tulisan Jepang doang (dimana-mana juga ada)
"Yee.. dipikir saya ga tau apa? Makasih nih. Ikhlaskan?" kata si abang sambil ngidupin mesin motornya.
"Ya..ya..ikhlas.. udah sana, ntar rejekinya dari penumpang laen ga dateng-dateng". Kata saya.

Breemmm si abang langsung ngonyorrr..
"hmmm..dasar tukang ojek aneh", desis saya.

Nih saya udah di depan rumah si ibu yang mau privat nginggris nih. Saya liatin ini rumah. Pagernya tinggi euy. Pas mau mastiin ada anjingnya apa enggak, saya malah kaget dengan suara motor. Breemmm..
waduhhh ini si abang ojek dateng lagi.
"Kenapa, bang? kok balik lagi?" tanya saya sebel.
"Lah situ kenapa belum masuk?"
"Saya bingung nih masuknya lewat manaaa". 
"Yaelah, buka pager, ucap salam, masuk" 
"Yahhhh.. itu juga saya tau. Udah sanaa, bang". 
"Bukan neng, saya mau nanya nih. Pertama, emang ini harga minuman berapa?" kata si abang.
"8 ribu. Kenapa? Mau ngasih kembalian?" Tanya saya sebel. "Itu lebih dari goceng". 
"Ohh..jadi ga perlu kembalian?" Tanya abang itu nyebelin.
"Yahhh,, ga usahhh, cepetan sana pergi. Ini ntar saya berubah pikiran loh." Ancam saya ke abangnya.
"Yang kedua; jalan keluar dari komplek ini ke mana ya, neng? saya muter-muter dari tadi". Kata si abang ngernyit jidat.
"Yahhh, mana saya tau bang. Tadikan yang bawa saya masuk ke kompleknya, si abang". Kata saya.
"Yahh..gimana dong?" Tanya abangnya.
"Ya udah, ke satpam, tanyain gerbangnya." 
"Oh, iyaaa.. Cakep tuh idenya" 
(x_x )saya tepuk jidat. (abangnyaaaa..muka aja seremmm)
si abang ojek nyengirr sambil say "thank you"

-to be continued
readmore »»  

Minggu, 09 Desember 2012

PERTAMINA & REPUBLIKA


MENGUKIR PRESTASI BERSAMA PERTAMINA
Melalui OSN-Pertamina: Jadilah Sobat Bumi Berprestasi!
oleh: Rysky Marlinda



Olimpiade Sains Nasional Pertamina (OSN-Pertamina) adalah wujud kepedulian Pertamina terhadap kemajuan Indonesia atau yang sering kita kenal dengan istilah corporate social responsibility (CSR). Namun, yang membedakan program ini dengan CSR lain yang ada adalah perhatian Pertamina pada pendidikan dan pembangunan jiwa scientific bagi setiap generasi Indonesia dengan konsep cinta bumi. Melalui OSN, Pertamina tidak hanya mencetak generasi cerdas teoritis, tapi juga mencintai dan penduli akan kelestarian bumi. Hal ini yang menjadi poin penting akan pembangunan generasi dalam mendukung Indonesia yang lebih baik ke depannya.

OSN-Pertamina 2012 adalah olimpiade nasional ke-lima yang telah diselenggarakan Pertamina sejak tahun 2008. Kali ini OSN-Pertamina bersinergi langsung dengan Universitas Indonesia. Bidang yang menjadi konsentrasi pengasahan prestasi dalam ajang OSN-Pertamina 2012 meliputi; Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia. Tak tanggung-tanggung, 19.000 peserta yang semuanya berasal dari kalangan mahasiswa dari seluruh Indonesia turut berpartisipasi dalam ajang bergengsi ini.

Membludaknya peserta di tahun 2012 ini menjadi sebuah harapan baru bagi Indonesia bahwa jiwa kompetisi dan semangat berprestasi generasi Indonesia benar-benar tinggi. Inilah yang kemudian menjadi inspirasi Pertamina untuk memfasilitasi generasi-generasi penerus bangsa untuk menorehkan prestasi dan menuangkan ide kreatifnya terkait kelestarian bumi. Pada OSN-Pertamina 2012, pembaharuan konsep kompetisi ternyata semakin variatif. Pasalnya OSN-Pertamina tak hanya menantang setiap peserta untuk berprestasi secara teori saja, namun kompetisi ini juga menyiapkan tantangan berupa science project yang merupakan kategori perdana di tahun 2012. Yang mana setiap peserta melalui ilmu sains yang mereka tekuni mampu menciptakan model, teknologi, atau solusi terkait kelestarian bumi dan keramahan lingkungan.

Pertamina menyiapkan total hadiah Rp2,8 M bagi generasi Indonesia yang mampu menaklukan setiap tantangan dalam ajang OSN-Pertamina 2012. Melalui upaya yang tak mudah dan penyaringan peserta dari beragam universitas dan provinsi di seluruh Indonesia, OSN-Pertamina akhirnya dimenangkan oleh Grandprix Tomreyes (Univesitas Indonesia) dibidang science project dengan karyanya yang berjudul  Aplikasi zeolit alam indonesia, zeolit alam Indonesia aktif dan Na-Zeolit alam Indonesia sebagai katalis rengkah limbah plastika polietilen menjadi fraksi minyak bumi, yang mampu memukau setiap dewan juri. Untuk kategori teori bidang Matematika dimenangkan oleh Abe Gracia Valeerian (Universitas Pelita Harapan). Bidang Fisika disabet oleh David Sipayu (Universitas Indonesia). OSN Kimia ditaklukan oleh Bayu Ardiansah (Universitas Indonesia). Dan bidang Biologi dimenangkan oleh Budi Santoso dari (Universitas Gadjah Mada). Pemenang OSN-Pertamina pada masing-masing kategori, tak hanya mendapat uang pembinaan dan pengembangan science project yang fantastis, namun juga mendapat privilege dari Pertamina. Hal ini dimaksudkan agar setiap generasi berprestasi dan juara olimpiade Indonesia mampu berkiprah lebih jauh sesuai dengan bidang yang mereka kuasai guna membangun Indonesia yang lebih baik di masa depan.

Semoga langkah yang telah diawali Pertamina melalui OSN-pertamina ini, mampu menjadi motivasi bagi generasi Indonesia lainnya untuk terus berprestasi dan juga peduli akan kelestarian bumi. Dan semoga program ini dapat menginspirasi pelbagai korporasi lain di Indonesia untuk turut partisipatif membangun generasi berprestasi di Indonesia. Karena melalui sumber daya manusia (SDM) yang unggul tersebut, akan tercipta masa depan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia.

Terima Kasih Pertamina, untuk kepedulian terhadap generasi Indonesia yang lebih baik dan cinta bumi. Semoga lebih banyak lagi program inovatif dan tetap jaya!






readmore »»  

Sabtu, 08 Desember 2012

Tentang Sebuah Surat yang Tertolak


Bogor, 6 November 2012
Yth. Bapak Dahlan Iskan
Di Tempat

Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarokatuh
“Tapi, aku janji akan bertahan. Selain harus bayar cicilan sepeda, aku juga ingin sekali punya sepatu. Ibu masih ingat mimpi besarku itu, kan?” (Khrisna Pabichara, 2012, hal. 312)

Saya sengaja membuka surat ini dengan menghadirkan tulisan Dahlan kecil di dalam diary-nya, Pak. Karena kalimat ini begitu mewakili maksud surat yang akan saya jabarkan kepada anda sekarang. Kalimat yang sederhana, tapi benar-benar menelusuk hingga ke dalam hati saya. Bergetar-getar di dua gendang telinga saya, dan terus tertancap di ingatan. Bukan karena apapun, tapi karena goresan impian yang ia tautkan di sana. Ada kekuatan yang tak terlihat yang seakan juga menyemangati saya, tentang bagaimana bermimpi, dan usaha keras untuk mencapainya.

Hari ini, saya akan terus mengingat hari ini, Pak. Pasalnya, sekarang saya merasa sedang duduk bersama anda, mengobrol atau berbincang. Sama sekali saya tidak merasa sedang menulis sebuah surat. Memang aneh. Kenapa? Karena saya tidak sedang menyampaikan keluhan-keluhan kenegaraan, atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai geliat BUMN masa kini, bahkan tidak juga membahas isu-isu politik terbaru. Tapi hari ini, melalui surat singkat ini, saya hanya ingin berbagi tentang sebuah impian, tentang motivasi dan cita-cita. Kita berbagi mengenai masa depan. Itulah mengapa saya merasa bahwa saya sedang duduk bersama paman, guru, bahkan sahabat saya sendiri, bukan bersama seorang menteri kenamaan di negeri ini, Pak Dahlan Iskan.

Tak ada impian yang tak akan terwujud. Inilah kalimat yang selalu membangkitkan gairah saya mengejar mimpi. Sesulit apapun itu, impian saya adalah tugas utama yang harus diselesaikan, Pak. Saya tidak ingin kalah dengan seorang anak dari Kebon Dalem. Saya tak ingin kalah darinya, Pak, dalam meraih mimpinya, yaitu sepatu ataupun sepeda.

            Sama dengan Dahlan kecil, Impian saya pun meliputi dua hal; Belajar ke luar negeri dan Jepang. Tak kalah dengan impian Dahlan kecil, ya Pak? Sepatu dan sepeda. Mesti terdengar begitu sederhana, namun tetap saja dua-duanya adalah mimpi bagi saya.

            Sejak duduk di bangku kuliah di Bogor, saya memiliki hobi baru, yaitu nonton film di laptop. Ini dikarenakan saya kuliah di daerah rantau. Kosan saya begitu sederhana, dan tidak memiliki televisi. Hiburan yang bisa saya nikmati selain internet adalah nonton film, Pak. Sayangnya, karena bukan terhitung anak gaul, saya tidak begitu tahu film-film bagus. Tapi satu yang saya tahu, saya kurang suka nonton western film. Entah-lah, Pak, sebagus apapun film barat yang ditawarkan teman-teman saya, saya tetap kurang suka menontonnya. Akhirnya karena tahu saya tidak suka nonton film barat, teman-teman saya memberi alternatif lain, yaitu film-film asia. Saya begitu suka beberapa, salah satunya adalah film-film dari negeri sakura, Jepang.
 
Tidak seperti film-film pada umumnya, film garapan negeri sakura memiliki ciri khas tersendiri, yaitu pengetahuan, adat, dan teknologi serta penggambaran kedesiplinan yang kuat. Sejak saat itulah saya begitu ingin melihat negeri sakura secara langsung. Menapakkan kaki di sana, belajar banyak, bahkan menggali ilmu-ilmu yang tak pernah saya tahu sebelumnya, mencari lebih dalam mengenai kaizen, serta ketimuran yang khas. Saya ingin itu semua.

            Karena mimpi besar inilah, saya terus mencari cara agar bisa menginjakkan kaki di sana. Beragam program festival persahabatan dan kebudayaan Indonesia-Jepang selalu saya hadiri di Bogor. Jarang sekali terlewat. Bahkan, jika ada festival kebudayaan dan persahabatan di Jakarta pun, saya sepenuh hati untuk hadir di sana. Sebut saja seperti Matsuri dan Jak-Japan festival. Saya tak pernah ketinggalan untuk datang, jika sedang bertepatan dengan jadwal kuliah yang kosong. Dan beruntungnya, festival ini sering kali diadakan pada saat weekend saja, Pak.

            Karena terlalu sering saya hadir di acara kebudayaan dua negara ini; Indonesia dan Jepang, saya semakin berkeinginan bisa langsung belajar, atau meneruskan kuliah di negeri sakura. Bahkan saya sempat belajar bahasa Jepang dari beberapa kakak tingkat saya yang pernah menginjakkan kakinya di sana, Pak. Tak hanya sampai di sana, saya pun sering menghabiskan waktu di salah satu toko buku untuk membaca pengalaman para back packer yang berpetualang ke negeri sakura dengan modal nekat dan uang seadanya. Pasalnya tak sedikit mitos yang menyebutkan bahwa Jepang, tepatnya Tokyo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Setidaknya itu info yang sempat saya simak. Begitu menggilanya saya ketika membaca beberapa cerita para back packer mengenai keindahan Jepang, modernisasi di segala bidang, namun tanpa meninggalkan kebudayaan tradisional yang kental. Andai saja, Pak, saya bisa menjadi bagian dari para petualang itu, betapa bahagianya saya.

            Untuk tahu Jepang dan kebudayaannya, saya juga selalu membaca beberapa artikel di internet dan mengikuti milis pelajar Indonesia yang bisa kuliah di sana atau orang Indonesia yang bekerja di Jepang. Saya tahu alamat milis ini pun, hasil dari search di internet, Pak. Melalui cerita-cerita pelajar Indonesia di Jepang itulah, saya merasa semakin semangat untuk bisa melihat indahnya Hokkaido secara langsung, bertualang hingga ke Shikoku dan tak lupa menyambangi kota Tokyo yang begitu sibuk, katanya. Saya ingin sekali menemukan patung Hachiko yang begitu melegenda, melihat anak-anak sekolah menyandang rodenseru, bahkan berburu Gyu Don dan Ramen khas Jepang yang halal. Saya ingin itu semua. Saya ingin seperti Dahlan kecil yang terus bersemangat karena mimpinya. “Sepenuh daya aku berusaha meraih mimpi-mimpi itu, dan tak berhenti sampai aku benar-benar memilikinya” (Khrisna Pabichara, 2012, hal. 338)
            Satu cerita gila yang pernah saya lakukan berkaitan dengan mimpi saya agar bisa belajar ke Jepang adalah pemburuan beasiswa monbukagakuso dari Kedutaan Besar Jepang di Jakarta. Pasalnya, saya mendaftar tanpa seizing kedua orang tua saya di rumah. Jika keduanya tahu, maka tentu akan lebih sulit lagi. Orang tua saya berharap saya fokus pada pendidikan strata satu di kampus saya sekarang. Karena biaya kuliah saya sebenarnya berasal dari beasiswa full yang diberikan kampus. Jika saya tidak serius menjalani, maka kontrak dibatalkan. Itulah yang ditakutkan kedua orang tua saya. Menurut kedunya, Pak, di dalam atau luar negeri sama saja, asal serius menekuninya. Sehingga sulit sekali meyakini mereka bahwa tes beasiswa Jepang ini hanyalah uji coba, hanya untuk mengukur apa saya mampu menyelesaikannya dengan baik. Tapi kedua orang tua saya tetaplah bersikukuh agar saya fokus pada kuliah saya di Bogor. Jadilah saya diam-diam ke Kedutaan Jepang di Jakarta untuk mengisi formulir dan menyerahkan syarat kelengkapan berkas dan administrasi. Formulir monbukagakuso tersedia dalam dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Dengan bismillah saya tarik form berbahasa Inggris. Ternyata, formulir beasiswa ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar ketertarikan para pemburu beasiswa akan belajar di Jepang, dan jurusan apa yang akan mereka geluti, serta pilihan universitas yang telah mereka rencanakan.

            Saya pun menjabarkan beberapa alasan saya dan menceritakan ketertarikan saya akan Jepang. Saya memilih jurusan yang ada kaitannya dengan studi saya di kampus yaitu ekonomi dan bisnis. Dan memilih Tokyo University, Pak. Setelah itu, saya serahkan pelbagai kelengkapan seperti: ijazah, surat keterangan kelulusan SMA dan beragam persyaratan lain termasuk sertifikat kegiatan dan prestasi yang pernah diraih. Harapan besar bagi saya untuk bisa tembus tes beasiswa ini. Jika tahap ini lulus, Pak, masih akan ada tiga tes lagi menanti ke depan, yaitu kemampuan akademik, wawancara dan kesehatan. Saya terus menunggu penuh harap.

            Satu bulan saya menunggu, Pak, tapi belum juga ada jawaban. Hingga tibalah masa liburan bertepatan UAS (ujian akhir semester) berakhir. Kedua orang tua saya meminta saya pulang, karena mereka kangen dengan anak gadisnya ini. Saya pun pulang. Kurang lebih satu minggu saya di rumah, di sore hari ketika saya sedang memijat kaki ibu saya, sebuah nomor asing masuk ke handphone saya. Kode teleponnya adalah kode Jakarta. Saya angkat telepon itu, dan betapa bahagianya saya ketika mendengar bahwa yang menelpon merupakan salah seorang staff kedutaan Jepang yang mengurus penerimaan beasiswa monbukagakuso. Ia menyatakan saya lulus tahap pertama dan diminta datang ke Depok di salah satu universitas di sana untuk mengikuti seleksi tahap berikutnya. Dengan lembut saya meminta mbak Puti, nama yang menelepon saya dari kedubes, untuk mengulangi apa yang beliau infokan kepada saya. Sesaat sebelum mbak Puti mengulangi, saya tekan tombol loud speaker dari handphone saya, Pak. Dengan harapan ibu saya yang sedang duduk di dekat saya turut mendengar kabar baik itu. Setelah selasai mbak Puti mengulangi, saya ucapkan terima kasih padanya, dan menyanggupi untuk hadir di seleksi ke depan, sebelum akhirnya pembicaraan kami akhiri.

            Di luar dugaan saya, Pak. Bukan senyum atau raut gembira yang saya dapati dari wajah ayu ibu, tapi malah sebaliknya. Beliau marah dengan apa yang barusan beliau dengar. Ibu kecewa kenapa saya tidak memberitahukan beliau atau ayah sebelumnya. Kenapa saya tak mau konsisten dan loyal terhadap beasiswa yang telah saya peroleh sebelumnya dari kampus saya di Bogor. Ibu serta merta meminta saya untuk melupakan seleksi berikutnya di Depok. Saya tiba-tiba terdiam, Pak. Tak ada yang bisa saya jelaskan atau membantah pun saya tak berani. Padahal ingin sekali saya katakan bahwa ini hanya ajang coba-coba, apa saya mampu ikut tes beasiswa Jepang. Tapi, yah sudah-lah, Pak. Kemarahan ibu membuat saya bisu kehilangan alasan atau sanggahan. Saya pun berdiri dan berjalan menuju kamar. Tapi, satu yang saya ingat, Pak. Sebelum saya melangkah, ibu katakan bahwa saya selesaikan dengan serius S-1 di Indonesia dulu, setelah menikah dan kerja, jika ingin melanjutkan S-2 keluar negeri silahkan saja. Kata-kata ibu inilah yang membuat saya senang dan kembali bersemangat, meski sedikit kecewa. Padahal ya Pak, jika saya sedang di Bogor saat itu, mudah saja bagi saya untuk naik kereta ke tempat seleksi dan menjalaninya, hmm.. sudahlah, mungkin bukan rejeki saya.

            Sejak saat itu, saya membuang jauh-jauh niatan untuk mencari beasiswa ke Jepang saat ini. Saya mulai memikirkan nasihat ibu. Kini saya sibuk terus belajar bahasa Jepang dari kamus dan search hal-hal yang menarik mengenai Jepang. Saya pun menuliskan daftar mimpi-mimpi indah saya saat menginjakkan kaki di Jepang pada dinding kamar kost saya, dengan harapan suatu ketika ada kesempatan yang membuat saya benar-benar bisa melangkah menuju negeri sakura. Aamiin.

            Itulah cerita saya, Pak. Tak ada bedanya dengan impian orang lain, meski banyak orang-orang di luar sana yang dengan mudah mencapainya dan berusaha sekeras mungkin mendapatkannya, begitupun saya. Cerita anda yang dilukiskan oleh Dahlan kecil membuat saya semakin yakin, Pak, bahwa tak ada mimpi yang tak bisa terwujud. Semua berbanding lurus dengan usaha dan kerja keras, serta keyakinan akan indahnya mimpi-mimpi kita. Jika Dahlan kecil sukses, mengapa saya tidak.

            Terima kasih, Pak, sudah mau meluangkan waktu membaca surat singkat ini, dan mungkin tersenyum atau tertawa ketika mambacanya. Terakhir, saya sangat berharap Anda pun turut serta mendoakan agar impian saya benar-benar terwujud dan menjadi sukses seperti Dahlan kecil yang kini jadi menteri.

Salam hormat,
Rysky Marlinda
readmore »»