طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ #menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim# اطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ #tuntutlah ilmu walau hingga ke negeri Cina#

Minggu, 21 Oktober 2012

republika dan BNISyariah





IB Hasanah BNI Syariah: Menggapai Masyarakat Kecil Mandiri Melalui Kerjasama Linkage Program
(Meski dengan Warteg, “Mereka” Tetap Mandiri)
Oleh: Rysky Marlinda 
sumber gambar: id.wikipedia.org

Usaha warung tegal (warteg) memang bukanlah bisnis besar dengan omset yang selangit. Namun bagi sebagian besar masyarakat, terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah, warteg cukup menjanjikan guna menopang perekonomian keluarga agar tetap mandiri.
Masyarakat dengan kategori ini sebenarnya begitu potensial untuk diberdayakan dan diangkat tingkat kesejahteraannya. Namun, dengan tema bisnis keluarga kecil-kecilan inilah, yang membuat mereka sering kali patah arang melanjutkan langkah ke depan dengan modal usaha yang dirasakan mulai defisit.
 Kenapa kemudian membicarakan warteg ini begitu menarik bagi saya? Hal ini dikarenakan kisah nyata saya pribadi yang akan saya ulas dalam tulisan ini.
Sebagai seorang mahasiswi ekonomi yang belum memiliki pendapatan tetap karena masih mengandalkan kiriman orang tua, harusnya menjadikan saya bijak memilih jika dihadapkan antara dua pilihan; 1. Makan terus-terusan di kedai-kedai fast food atau café dengan harga yang lumayan mahal bagi kantong mahasiswa jika dilakukan setiap hari, serta kurang baik menurut medis; dibandingkan dengan pilihan 2. Makan di warteg dengan porsi yang sedikit lebih, menu rumah-an, pilihan banyak, dan pastinya murah. Tentu tanpa berfikir 3,4 kali, pilihan kedua akan menjadi jawaban saya.
Warteg di seputaran kosan hanya ada satu, dan menariknya warteg ini sudah berkali-kali jatuh bangun. Usaha bisnis keluarga Bu Ramdan ini membuat saya begitu penasaran mencari tau pahit-getir pengelolaannya. Sembari makan, kadang pemilik warteg ini sering ngobrol pada pelanggannya termasuk saya. Kesempatan inilah yang selalu saya gunakan untuk belajar pengalaman berharga dari jatuh-bangun-nya bisnis warteg ini.
Bu Ramdan bercerita bahwa pada awalnya tak ada yang keluarga mereka dapat lakukan, kecuali pasrah saja pada takdir hidup yang tampaknya semakin pro pada kondisi warteg mereka yang akan gulung tikar. Mereka terus gencar pinjam ke tetangga atau keluarga terdekat untuk menambah modal agar menyuntik kekuatan keuangan warteg yang menjadi satu-satunya harapan sumber penghasilan keluarga ini. Bu Ramdan sangat menaruh harapan bahkan keyakinan warteg-nya di suatu hari nanti akan tumbuh dan berkembang. Beliau akan lakukan berbagai cara agar sumber pendapatan keluarganya ini tak sekejap gulung tikar. Berbagai pertimbangan ini beliau lakukan karena beragam alasan, misalnya: pertama, warteg ini adalah warisan almarhum suaminya sejak beliau meninggal empat tahun yang lalu. Kedua, warteg ini adalah harapan satu-satunya agar sumber perekonomian keluarganya terus tercukupi dengan kondisi dua anak Bu Ramdan semuanya bersekolah. Ketiga, Bu Ramdan yakin betul dengan potensi tumbuh kembangnya warteg tersebut.
Mendengar penuturan pemilik warteg ini, saya kemudian tertegun dan mengiyakan teori yang sering diungkap oleh beberapa dosen saya, di antaranya Bapak Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec. Beliau selalu beropini bahwa sebenarnya kemiskinan terjadi bukan karena masyarakat miskin itu malas ataupun bodoh; tentu tidak, pikir saya. Buktinya Bu Ramdan, beliau gigih memperjuangkan wartegnya untuk terus bangkit, dan beliau bukanlah wanita yang bodoh. Beliau memiliki perhitungan yang tepat jikalau suatu saat nanti bisnis ini begitu menjanjikan, jika tidak, untuk apa beliau perjuangkan mati-matian. Lalu Pak Syafii meneruskan bahwa sebenarnya masyarakat miskin terus terjebak dalam kemiskinan dikarenakan  ada dua hal pokok. Pertama mereka kekurangan modal, kedua mereka memiliki akses yang terbatas akan lembaga keuangan. Sehingga menurut teori Pak Syafii, harus ada segolongan orang yang peduli pada pergerakan masyarakat jenis ini, agar tersentuh oleh lembaga keuangan. Alhamdulillah, Pak Syafii Antonio tidak hanya berteori saja. Beliau kemudian membentuk Baitut Tamkin Tazkia Madani (BTTM) yang bertujuan memberi pinjaman, pelatihan serta pemberdayaan masyarakat miskin yang berdomisili di sekitar kampus. Nantinya program inilah  yang mampu menghubungkan Bu Ramdan dan BNI Syariah secara tidak langsung dengan kerjasama linkage program untuk solusi bangkitnya warteg beliau.
Kembali kepada cerita Bu Ramdan tentang upaya kerasnya mencari pinjaman dana. Beliau pun menjelaskan dengan gamblang bahwa hampir saja beliau mati langkah dan kemudian lari kepada para rentenir. Untung saja, Tuhan tak memperkenankan hal buruk itu menjerat Bu Ramdan dan keluarga. Mungkin dengan pertimbangan usaha mati-matian beliau dan kerja kerasnya, Tuhan memberi jalan berupa lahirnya BTTM yang kemudian mengajak Bu Ramdan untuk masuk ke dalam kelompok pemberdayaan.
BTTM sebagai lembaga keuangan mikro syariah atau tak jarang dikenal dengan istilah Islamic Microfinance tentunya tak mampu berdiri sendiri dan membutuhkan uluran tangan lembaga keuangan yang lebih sigap dalam kekuatan financial. Hal ini yang kemudian melahirkan sebuah solusi cerdas dan produk unggulan berupa linkage program. Program yang melahirkan sinergisitas antar lembaga keuangan dengan tujuan saling menopang dan menguatkan. Linkage program dengan branding IB Hasanah BNI syariah misalnya. Produk BNI Syariah inilah yang kemudian menjadi salah satu penopang bangkitnya ekonomi kecil dan bisnis keluarga warteg Bu Ramdan. Mungkin tanpa disadari secara langsung oleh BNI Syariah yang kala itu turut secara partisipatif mendanai BTTM yang membina serta memberdayakan masyarakat kecil dengan bisnis kecil-kecilan pula, salah satunya Bu Ramdan, mampu bebas dari masalah ekonomi yang tentu memberatkan keluarganya kala itu. Melalui kerjasama ini, sudah berapa puluh atau ratus ibu Ramdan-ibu Ramdan lainnya di luar sana yang juga menikmati fasilitas pembiayaan estafet BNI Syariah ini. Mengapa estafet? Dikarenakan ada kerjasama mutualisme di antara BTTM dan BNI Syariah dengan produk IB Hasanah-nya. BTTM memperoleh dana melalui BNI Syariah guna memberdayakan keluarga kecil hingga menengah menuju kemandirian usaha atau bisnis keluarga dengan level mikro. Di sisi lain, BNI Syariah menjadi begitu partisipatif dalam pembangunan dan pergerakan ekonomi kerakyatan yang tentunya membangun sektor riil negara secara bertahap. Sehingga fungsi perbankan syariah sebagai salah satu solusi bagi masyarakat kecil dalam mencapai maslahah pun terjawab.
Dampak akan produk pembiayaan kerjasama Linkage Program IB Hasanah BNI Syariah pun sebenarnya begitu domino, dan perhitungan Bu Ramdan akan bisnis warteg-nya di masa depan dapat begitu dirasakan belakangan ini. Dengan terus mandirinya usaha warteg beliau, karena posisinya telah lebih strategis dan berada di sekitar kampus, yang menjadi salah satu tempat dolan favorit mahasiswa (hal ini adalah hasil pembinaan dan saran dari BTTM kepada Bu Ramdan untuk mempelajari sasaran market atau strategi penempatan lokasi bisnis). Bisnis inipun menularkan keberhasilannya untuk kemudian lahir pengusaha-pengusaha bisnis mikro lainnya. Di sekitar warteg, kini hadir toko alat tulis kantor (ATK), tak berjauhan hadir pula warung bahan pokok dan jajanan, serta sedikit menyebrang muncul pula warung-warung isi ulang pulsa dan beberapa kedai bakso. Inilah yang disebut pembangunan ekonomi rakyat. Sinergisitas dan produk yang begitu solutif dari berbagai lembaga keuangan salah satunya BNI Syariah dengan branding Pembiayaan kerjasama Linkage Program IB Hasanah, diharapkan untuk terus meningkatkan pelebaran jangkauannya dan terus memperjuangkan eksistensi produk tersebut demi ke-maslaha-tan umat.
Melalui pemaparan cerita tersebut, saya benar-benar mendukung produk BNI Syariah ini demi pembangunan ekonomi Indonesia yang lebih baik. Insya Allah.

readmore »»  

Jumat, 12 Oktober 2012

RepublikaOnline2012; BRISyariah2012


Investasi Emas: Ikhtiar Meraih Jamuan Menuju Tanah Suci 
0leh: Rysky Marlinda STEI Tazkia
Investasi emas memang begitu menguntungkan. Hal ini dialami sendiri oleh keluarga kami, khususnya ibu saya. Mungkin tulisan ini hanya berupa sharing saja yang menjadi salah satu bukti bahwa investasi emas memang sungguh menjanjikan.
Di pertengahan tahun 2008, mungkin tepatnya pada bulan Juni 2008. Ayah membawa berita gembira kepada keluarga kami. Berita mengenai pendaftarannya sebagai calon Jemaah haji untuk keberangkatan akhir tahun 2009. Hal ini tentunya begitu menggembirakan, namun ternyata sebaliknya bagi ibuku. Ayah mencoba memberi penjelasan kepada ibu bahwa ayah hanya mampu membayar bagi satu orang Jemaah saja. Sedang ibuku belum beliau daftarkan. Ibu sebenarnya ingin sekali berangkat ke tanah suci beserta ayah, namun mendengar penjelasan ayah yang begitu beralasan dan ibu pun paham jika semua penjelasn itu benar, maka tak ada pilihan selain ia harus merelakan.
Saya mengerti sekali ibu, beliau kecewa tapi tak beliau tunjukkan. Di malam harinya, selepas makan malam dan solat Isya, ibu duduk sendiri di kamar beliau, saya tahu itu, karena bertepatan ketika saya masuk ke kamarnya. Beliau begitu fokus pada sebuah perhiasan kalung yang saya yakin, beliau sukai, karena ada cerita perjuangan di sana. Perjuangan seorang wanita menabungkan uangnya dalam wujud logam mulia nan indah. Ya, emas.
Sejak saya SMP, ibu memang mulai berinvestasi dalam bentuk logam mulia dan wujudnya adalah emas. Jangan bayangkan investasi ini adalah investasi besar-besaran serta melaui program kontemporer seperti sekarang. Namun, ini hanyalah investasi model ibu-ibu rumah tangga dengan cara yang begitu sederhana; membeli dan mengumpulkan, jika butuh ya dijual ke toko emas lagi.
Ibu selalu menjelaskan bahwa emas adalah logam mulia yang tak mudah turun nilai. Emas pun begitu liquid, sangat mudah dicairkan, jika butuh uang, langsung saja jual emas. Di mana-mana toko emas banyak, harganya pun cepat sekali naik. Di samping beragam argumen ibu yang begitu logis, tentu saya mengerti bahwa fitrah wanita adalah menyukai keindahan dan berhias, termasuk melalui investasi emas baik sebagai barang berjaga-jaga demi kebutuhan masa datang, atau sekadar hiasan yang bernilai jual. Sejak saat itulah, ibu selalu menyisihkan uangnya untuk membeli emas dari sisa uang bulanan keluarga yang dengan apik mampu beliau kelola, sehingga surplus, meski tak banyak. Jika lebih, ya diinvestasikan, jika tidak, ya tidak ada.
Awalnya emas yang ibu kumpulkan hanya berkisar 5-6 gram, namun dengan keahlian beliau dalam penganggaran belanja bulanan yang surplus berkala, beliau selalu mencicil untuk membeli lagi atau menukarkan emasnya dengan yang lebih tinggi takarannya 1-1.5 gram. Jika butuh uang, beliau akan segera menjualnya kembali, begitulah seterunya hingga di pertengahan tahun 2008 lalu. Alhamdulillah beliau telah berinvestasi emas seberat 60-62 gram. Ketika itu nilai  jual emas per gram-nya mencapai kisaran Rp417.000.
Menanggapi cerita ayah tadi sore, ibu kemudian menyampaikan pada saya, bahwa sudah menjadi impian beliau untuk pergi bersama ayah ke tanah suci, tapi biaya yang kemudian menjadi sandungan yang cukup berat baginya. Ibu terus melayangkan pandangannya pada logam mulia yang telah beliau kumpulkan bertahun-tahun yang kini ada di tangan beliau. Ada rasa sayang, itu yang kemudian saya tangkap dari kedua mata ibu. Ya wajar, ibu adalah seorang wanita, perhiasan yang begitu indah dan hasil dari tabungannya bertahun-tahun dari mulai 1,2,3 dan akhirnya 60 gram, tentu berat baginya melepas emas itu begitu saja. Ke undangan hajatan pun jarang beliau kenakan. Hanya pada acara-acara yang megah, barulah dikenakan. Kalau hajatan di kampung, ibu jarang bahkan tak pernah mengenakannya, dengan alasan keamanan. Ayah juga tak pernah membelikan ibu perhiasan  emas yang langsung 60 gram, beliau belikan dengan menyicil 3-5 gram saja. Di samping itu, ibu selalu kepikiran kakak yang di tahun depan butuh biaya yang cukup besar karena untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Mata ibu mengisyaratkan kalau beliau tak sampai hati menjual perhiasan itu hanya untuk kepentingannya sendiri, “ke tanah suci”. Ya, itulah ibu.
Ayah, beliau adalah seorang karyawan di salah satu BUMN, penghasilannya cukup tapi tidak berlebih. Hanya karena ibuku seorang manager keluarga yang hebat, maka penghasilan bulanan ayah selalu terasa lebih bagi kami, dan Insya Allah berkah. Naik haji adalah impian terbesar ayah dan ibu, disamping melihat kami menyandang pendidikan tinggi. Itulah dua impian yang selalu menjadi prioritas mereka. Ayah membuka tabungan haji yang telah hampir berjalan dua tahun, dan sekarang beliau telah mendaftarkan dirinya sebagi calon jemaah haji untuk keberangkatan 2009. Namun, tanpa ibu.
Kembali pada cerita ibu dengan perhiasan kalung emas di kamarnya. Kala itu akhirnya saya memutuskan turut angkat bicara, karena merasa sudah cukup besar untuk berkomentar. Tak lama lagi saya akan naik ke kelas tiga sekolah menengah atas, dan menurut saya, ini modal untuk menegakkan hak beropini, terlebih lagi demi kebaikan. Setidaknya ibu akan mendengarkan opini putrinya ini. Saya kemudian meraih kalung yang ada di tangan ibu, “Cantik sekali, Bu” saya memulai. Ibu kemudian tersenyum dan berkata bahwa itu akan jadi milik saya, untuk kuliah saya dan kuliah kakak. Saya kemudian bertanya tentang keberangkatan ayah ke tanah suci tahun depan dan menanyakan perasaan ibu. Ibu hanya tersenyum dan kemudian matanya berkaca, saya faham. Sambil merangkul ibu, saya katakan lembut padanya, bahwa cinta ibu sedang diuji. Allah sedang menguji kecitaan ibu. “Bu, saya dan kakak adalah anak yang sudah dijanjikan rezekinya oleh Allah. Jika ibu takut akan sulitnya rezeki kami, maka itu sama artinya dengan ibu meragukan Allah, karena Ia-lah yang Maha Memberi Rezeki”Itulah yang saya coba sampaikan, sehingga ibu mungkin merasakan sesuatu yang bergerak dalam hatinya, dan membuatnya memandang kepada saya dalam. Saya kemudian melanjutkan. “Jika ibu sayang pada perhiasan ini karena menurut ibu ini adalah uang yang telah ibu kumpulkan bertahun-tahun berwujud emas kemudian sayang untuk di-uang-kan, maka ibu telah sangat dekat padanya melebihi kedekatan ibu pada Sang Pencipta, oleh karena itu Dia menguji ibu. Jikalau ke tanah suci adalah impian ibu, dan biaya bisa dicover oleh kalung emas ibu, serta kami pun ikhlas akan tujuan yang mulia ini, lantas apa lagi yang membuat ibu ragu? Bukankah setan amat senang sekali menghembuskan nafas keraguan serta rasa cinta yang mendalam terhadap harta, Bu? Bukankah setan yang terus membujuk kita untuk berat hati dan tak condong pada niat baik, Bu. Jika ibu yakin, maka jual lah kalung ini, Bu. Allah bisa mengganti kalung ini dengan yang 1000 kali lebih indah, Allah juga yang akan memenuhi kebutuhan akan biaya kuliah saya dan kakak, Allah juga yang Maha mendengar doa lagi menyaksikan kerja keras hamba-hambanya. Maka jual lah ini, Bu. Karena ibu akan berdagang dengan Allah, dan tak ada perdagangan yang lebih baik kecuali perdangan dengan Allah.” Mendengar kata-kata yang tak sadar saya ucapkan, ibu langsung memeluk saya. Saya meminta maaf jika yang saya katakan menyinggung hati ibu, karena tak ada maksud hati menyakiti beliau. Saya hanya merasa perlu memberikan dukungan padanya, demi impian baiknya.
Keesokan hari, ibu langsung menyatakan niat baiknya untuk menjual perhiasan emas seberat 62 gram itu. Ayah dengan secepat kilat langsung meng-iya-kan. Karena kata ayah, kesempatan untuk menerima undangan tak datang dua kali, terlebih ini adalah jamuan besar menuju tanah suci. Ayah kemudian menaksir dengan harga perkiraan emas di kala itu. Maka menurut prediksi ayah, uang yang akan ibu peroleh mampu menjadi dana untuk mendaftarkan dirinya sebagai calon jamaah haji, yaitu berkisar 25 hingga 30 juta rupiah. Karena takut akan berbeda waktu keberangkatan yang jauh antara keduanya, ibu dan ayah langsung saja mengurus perhiasan itu untuk segera dijual dan kemudian mendaftar haji.
Alhamdulillah wa syukurillah, sekarang ayah dan ibu telah benar-benar mewujudkan impian. Meraka telah menyaksikan sendiri megahnya Masjidil Haram dan tawaf di sana, merasakan khusuknya wukuf di Arafah, menikmati perjuangan historis Siti Hajar berlari kecil dari Safa menuju Marwah, serta dengan semangat melempar jumrah , yang tentunya bermalam di Musdalifa pun tak mereka lewatkan. Emas ibu yang kala itu seberat 62 gram mampu menjadi investasi yang begitu membuka peluang dan menghantarkan beliau ke tanah suci.
Setelah dua tahun dari peristiwa besar itu, ayah diangkat menjadi supervisor di kantor cabang perusahaan tempat beliau bekerja. Rezeki keluarga kami menjadi semakin mudah. Serta Alhamdulillah, kakak pun kini kuliah dengan dana beasiswa dari salah satu Bank milik pemerintah setiap semesternya. Ayah dan ibu tak perlu mengeluarkan biaya besar, karena semua biaya semester kakak dicover oleh Bank tersebut. Dan saya pun kini telah kuliah dengan  beasiswa full di salah satu PTS di Jawa Barat, Alhamdulillah. Memang benar, perdagangan yang tidak merugikan adalah berdagang dengan sang pemilik dan pemegang rezeki (ar-razzaq). Semua tergantikan kini, ibu dan ayah mewujudkan mimpinya ke tanah suci, karir ayah semakin lancar, kakak dan saya pun tak memberatkan orang tua.
Melalui sharing cerita ini dan kenyataan yang saya saksikan sendiri, ternyata benar bahwa investasi emas adalah investasi yang begitu menjanjikan. Di kala ibu tak memiliki rencana akan meraih impian sekaligus dengan bonus-bonus lebihnya, ternyata emas yang beliau simpan dengan motif berjaga-jaga, mampu mewujudkan impian tersebut. Apalagi jika investasi emas yang dilakukan terencana secara sistematis dan dengan model yang apik. Maksudnya investasi emas dengan cara, waktu dan tempat yang tepat. Yang mana kini banyak sekali program yang ditawarkan untuk mengelola dan menginvestasikan dana anda memalui program-progam perbankan, terutama perbankan syariah. Misalnya BRI Syariah yang memiliki program KLM (Kepemilikan Logam Mulia) dengan program ini, keinginan anda untuk memiliki emas akan terwujud serta manfaat yang akan didapatpun berlimpah. Jika ditanya mengenai waktu yang tepat berinvestasi? Ya jawabannya adalah disaat anda memiliki uang. Berapapun dana anda, cobalah investasikan, seperti halnya ibu saya di dalam cerita di atas. Beliau kumpulkan dana, investasi, dan akhirnya dengan metode konvensional step by step “sedikit demi sedikit, beliau mampu melihat bukit”. Jika di pertengahan 2008 harga jual emas sudah menempati level Rp417.000, apalagi sekarang? Akan ada banyak manfaat dan kejutan menguntungkan dari investasi logam mulia yang zero inflation effect ini. Tak yakin? Buktikan!




readmore »»  

Selasa, 02 Oktober 2012

Information Resources Management & Chief Information Officer

Tugas SIM (Sistem Informasi Management) Akuntansi Islam A


Information Resources Management
Pengertian
Manajemen sumberdaya informasi (information resources management – IRM) adalah aktivitas yang dijalankan oleh manajer pada semua tingkatan dalam perusahaan dengan tujuan mengidentifikasi, memperoleh, dan mengelola sumberdaya informasi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai.

Fungsi IRM
IRM berguna untuk mengetahui pencitptaan sumber informasi dan pengelolaan perusahaan. Dengan adanya konsep IRM dalam perusahaan, diharapkan terjalinnya hubungan yang baik antara elemen-elemen dan kebutuhan akan arus informasi dengan semua elemen-elemen lingkungannya. Karena IRM adalah konsep terintegrasi yang menyatukan lingkungan perusahaan, tingkatan manajemen, bidang-bidang fungsional, sumberdaya informasi, dan para pemakai. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa pendekatan paling efektif bagi perusahaan adalah mengembangkan rencana formal yang harus diikuti setiap orang.

Kondisi yang mendukung penerapan IRM pada Perusahaan
1.       Menyadari bahwa keunggulan kompetitif akan tercapai melalui SD informasi yang unggul;
2.       Menyadari bahwa jasa informasi bidang fungsional utama;
3.      Menyadari bahwa CIO adalah eksekutif puncak;
4.      Memperhatikan SD informasi dalam membuat perencanaan strategis;
5.       Rencana strategis formal untuk sumberdaya informasi;
6.      Adanya strategi untuk mendorong dan mengelola end-user computing;

komponen dasar penerapan IRM, yakni :
a. Lingkungan perusahaan;

b. Eksekutif perusahaan;
CIO disertakan dalam kelompok eksekutif yang mengarahkan perusahaan mencapai tujuannya dalam bentuk perencaan strategis.

c. Bidang/area fungsional;
Jasa informasi disertakan sebagai suatu bidang fungsional utama, dan setiap bidang bersama-sama mengembangkan rencana-rencana strategis yang mendukung rencana strategis perusahaan. Salah satunya adalah rencana strategis sumberdaya informasi, yang dipersiapkan oleh jasa informasi bekerja sama dengan bidang fungsional lainnya.

d. Sumberdaya informasi;
Rencana strategis sumberdaya informasi menggambarkan bagaimana semua sumberdaya informasi diperoleh dan dikelola. Sebagian dipusatkan dalam jasa informasi, dan sebagian didistribusikan diseluruh perusahaan dalam area pemakai.

e. Pemakai;
Data dan informasi mengalir antara sumberdaya informasi dan para pemakai. Sebagian pemakai ikut serta dalam EUC.

Chief Information Officer (CIO)
Siapa CIO itu?
CIO adalah seorang manajer eksekutif di bidang sistem informasi yang langsung bertanggung jawab kepada CEO (Chief Executive Officer). Kalau di dalam format PT (Perusahaan Terbatas) di Indonesia, CIO kurang lebih setara dengan Direktur (dalam jajaran direksi perusahaan) yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden Direktur. Pada kenyataannya saat ini, dapat dihitung dengan jari ada berapa perusahaan di Indonesia yang memiliki CIO di jajaran direksinya. Mengapa? Karena mungkin peranan sistem informasi belum begitu besar atau diperlukan oleh perusahaan yang bersangkutan sehingga mengharuskan memerka memiliki seorang personal eksekutif yang harus secara khusus memikirkannya.

Apa fungsi CIO?
Di dalam buku “Information Systems Management in Practice”, Ralph Sprague beserta rekannya Barbara McNurlin menjabarkan bahwa setidaknya ada lima fungsi utama CIO di sebuah perusahaan:

MEMAHAMI BISNIS
Tugas pertama dan utama yang merupakan tanggung jawab eksekutif lain dalam jajaran direksi adalah mempelajari dan memahami secara menyeluruh dan mendetail bisnis yang digeluti perusahaan.
Setidaknya untuk dewasa ini ada tujuh cara yang terbukti efektif untuk mempelajari hal internal dan eksternal perusahaan. Ketujuh cara tersebut adalah:
1.       Memiliki armada SDM yang secara berkala mempelajari keadaan pasar dan komponen eksternal lainnya;
2.       Mempelajari secara mendalam proses-proses penciptaan produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan;
3. Mengundang bagian-bagian lain dalam perusahaan untuk berdiskusi secara berkala;
4. Menghadiri seminar-seminar yang berhubungan dengan industri terkait;
5. Membaca secara aktif publikasi-publikasi yang berkaitan dengan produk, jasa, dan
industri dimana perusahaan yang bersangkutan berada;
6. Menjadi anggota forum-forum bisnis maupun akademis terkait; dan
7. Menjalin komunikasi aktif dan konsisten dengan para manajer lini perusahaan.

MEMBANGUN CITRA DIVISI
Tugas kedua yang menjadi tanggung jawab seorang CIO adalah membangun kredibitilitas direktorat sistem informasi yang dipimpinnya. Hal ini sangat penting mengingat banyak sekali karyawan yang menilai bahwa penggunaan sistem informasi secara strategis merupakan ciri perusahaan di masa mendatang, bukan saat ini.

MENINGKATKAN MUTU PENGGUNAAN TEKNOLOGI
seorang CIO memiliki tugas untuk memasyarakatkan teknologi informasi agar dipergunakan secara aktif untuk para karyawan perusahaan. Selain pemberian program-program pelatihan (training) yang bersifat edukatif, diperlukan suatu strategi untuk membuat karyawan tertarik belajar lebih jauh dan memanfaatkan teknologi informasi yang ada.

MENCANANGKAN VISI TEKNOLOGI INFORMASI
Seorang eksekutif senior yang baik, adalah yang selalu bersifat proaktif.
Membantu perusahaan mencanangkan visinya di masa mendatang adalah salah satu contoh sikap proaktif yang harus dimasyarakatkan di kalangan perusahaan. Visi pemanfaatan sistem informasi merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari visi perusahaan secara umum.

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI
Suatu kali seorang praktisi manajemen mengatakan bahwa seorang CIO yang baik akan dapat “memanusiakan” karyawannya dengan cara memanfaatkan teknologi informasi untuk membantunya melaksanakan aktivitas pekerjaan sehari-hari.


sumber:
 http://saiiaerlin.blogspot.com/2011/10/manajemen-sumber-informasi-irm.html
http://dntz-oink.blogspot.com/2009/03/sim.html
http://esteler03.blogspot.com/2010/11/irminformation-resources-management.html
http://nitaanggra.blogspot.com/2010/11/information-resources-management.html
 http://rebaneka.blogspot.com/2009/04/computer-based-information-system-cbis.html
http://dosen.narotama.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/TUGAS-UTAMA-CHIEF-INFORMATION-OFFICER.pdf

semua sumber diakses pada 2/10/2012
readmore »»