طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ #menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim# اطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ #tuntutlah ilmu walau hingga ke negeri Cina#

Kamis, 05 Juli 2012

Menggali Sumatera Selatan dari Masa ke Masa


Sriwijaya, nama sebuah kerajaan yang pernah berdiri megah di Indonesia. Sejarah banyak yang menceritakan bahwa kerajaan maritim terbesar di nusantara ini berpusat di Sumatera Selatan, tepatnya Palembang. Ibu Kota Provinsi yang masuk sebagai lima besar lumbung energi nasional ini tidak hanya terkenal dengan pempeknya, namun juga sejarah kerajaan besar dan peradaban hebat.

Untuk tahu sejarah dari masa ke masa, maka selain internet dan buku, maka tempat yang paling nyata menyimpan seluruh cerita bersejarah adalah museum. Museum yang cukup terkenal di Palembang berkenaan dengan perkembangan wilayah ini sejak berabad-abad lalu ada dua, yaitu Museum Balaputeradewa dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Museum Balaputeradewa

Di museum Balaputeradewa pengunjungnya akan diajak menyusuri Sumatera Selatan dari masa ke masa terhitung sejak zaman pra sejarah yaitu zaman  megalitikum, yang dibuktikan dengan hadirnya sebuah batu besar berupa arca peninggalan zaman ini, di bagian awal pintu masuk museum. Selain itu juga, ada beberapa arca di kolam bagian dalam museum ini yang juga berasal dari zaman yang sama. Arca tersebut menggambarkan seorang wanita yang sedang menggendong anak dan ada juga arca lain yang menggambarkan seorang pemuda sedang menaklukan hewan sejenis kerbau. Menurut info yang ditulis pada arca ini, arca-arca tersebut ditemukan di daerah Pasemah, Tanjung Ara dan Gunung Megang, Kabupaten Lahat.

Ada beberapa ruang di dalam museum yang cukup besar berisi beragam perkakas dan peninggalan zaman pra-sejarah lainnya, semisal fosil kayu, fosil binatang, kapak genggam dan lain-lain.

Ruang-ruang ini di setting sedemikian rupa, sehingga teratur berdasarkan urutan perkembangan wilayah Sumatera Selatan dari masa ke masa, baik dari zaman pra sejarah, masa Kerajaan Sriwijaya, Masa Kesultanan Palembang Darussalam, era penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang di wilayah ini. Pengunjung juga boleh mengikuti beberapa penjelasan pada televisi yang menampilkan film-film dokumenter yang telah disediakan sebagai fasilitas pendukung museum ini.

Di museum balaputeradewa kurang lengkap rasanya menggali info yang juga tak kalah penting, yaitu keruntuhan Kerajaan Sriwijaya dan transisi ke masa Kesultanan Palembang Darussalam tanpa menelik lebih jelas dengan mengunjungi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Museum SMB II
Di museum yang memang menjelaskan secara apik perkembangan dan pasang surut serta runtuhnya kejayaan kesultanan Palembang Darussalam ini, penulis berharap mampu berbagi cerita-nya bersama melalui blog ini. Sultan Mahmud Badaruddin II, tak hanya nama dari bandara internasional Kota Palembang, namun juga menjadi nama museum yang cukup indah dekat dengan lokasi Jembatan Ampera.

Melalui museum ini kita tahu bahwa ternyata leluhur kesultanan Palembang Darussalam adalah Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit dan Raden Fatah, pendiri Kerajaan Demak. Di sini pun diceritakan secara tertulis bahwa sebenarnya raja-raja Palembang Darussalam memiliki hubungan darah dengan keturunan Rasulullah SAW. Jadi, sudah tak mengherankan jika budaya Palembang dipengaruhi oleh kultur Islam-Arab, Jawa dan Tiongkok (Cina) karena isteri  Raden Fatah adalah Puteri Campa yang berdarah Tiongkok. Nah, dari sinilah pertanyaan akan transisi masa Sriwijaya ke masa Kesultanan Palembang Darussalam terjawab.

Di Museum SMB II para pengunjung juga akan mendapati koleksi masa kesultanan yang masih terjaga di sana, semisal: senjata tradisional, kain songket tradisional, Al-Quran kuno, pelaminan, kitab tasawuf, kitab silsilah tarekat dan banyak lagi.

Itulah, sedikit cerita tentang Sumatera Selatan dan sejarah perkembangannya dari masa ke masa. Sekarang penulis telah memiliki sedikit ilmu untuk menjawab pertanyaan teman-temannya, mengenai "kenapa banyak kata-kata dari bahasa Palembang serupa dengan bahasa Jawa, dan mengapa orang Palembang "kebanyakan" bermata sipit dan berkulit putih? Serta apa dan mengapa ada perkampungan Ayib di Palembang?

Terima  kasih museum, Indonesiaku memang kaya ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar