طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ #menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim# اطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ #tuntutlah ilmu walau hingga ke negeri Cina#

Rabu, 25 Juli 2012

3 Jurus Stabilkan Harga Kedelai Khas Pemerintah

Tempe, makanan tradisional khas Indonesia yang merupakan panganan olahan kedelai. Diyakini begitu kaya akan kandungan gizi karena berprotein tinggi serta rendah kolesterol.

Tempe tidak hanya dikenal secara lokal namun juga internasional. Sayangnya, belakangan ini tempe sangat sulit ditemukan di pasar-pasar tradisional, jika pun ada, maka harga tempe sudah naik hingga 30 % atau lebih sehingga tak sedikit konsumen yang mengeluhkannya. Terlebih lagi ukuran tempe tersebut telah diperkecil oleh si-pedagang.

Kasus ini tak lain disebabkan karena harga kedelai yang kian melambung. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah kedelai-kedelai ini bukan datang dari hasil tanam dan olahan masyarakat pribumi, namun datang dari negeri seberang (asing). Hal ini lah yang memicu para produsen tempe untuk mogok dagang dan tak ingin produksi tempe lagi. Bahkan mereka mengancam akan berunjukrasa selama 3 hari full demi membuka mata pemerintah untuk segera menstabilkan harga kedelai yang kian mahal (disinyalir akibat kasus kekeringan yang diderita negara-negara importir kedelai; Amerika Serikat, Argentina, Brazil). Bahkan mereka (produsen & pedagang tempe) lebih-lebih mengharapkan pemerintah fokus & serius dalam upaya optimalisasi produksi kedelai nasional, karena Indonesia kaya akan varietas kedelai yang unggul serta mampu bersaing dengan kedelai-kedelai impor lainnya.

Menyikapi masalah tersebut pemerintah pun angkat bicara serta menawarkan solusi yang ia yakini mampu menjawab keluhan pedagang dan produsen tempe. Seperti apa jalan keluarnya? Berikut kami sajikan jawaban pemerintah terkait hal di atas:



REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perdagangan mengeluarkan tiga upaya untuk menstabilkan harga kedelai di pasaran Indonesia. "Pertama, kami akan membebaskan bea masuk impor kedelai. Saat ini sebesar 5 persen dan akan di nol persenkan, yang akan berlaku secepatnya," kata Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamukthi di Jakarta, Rabu (25/7).

Bayu mengatakan, hal itu tidak akan berlaku selamanya dan diharapkan berlaku pada Agustus hingga Desember 2012 untuk melindungi petani kedelai lokal.
Upaya kedua, pemerintah ingin memfasilitasi koperasi perajin tempe dan tahu agar bisa melakukan impor bahan baku kedelai secara mandiri. "Selama ini izin impor sifatnya terbuka dan dipegang oleh swasta. Untuk mengurangi biaya distribusi dan margin, kami akan mendorong koperasi tahu dan tempe untuk melakukan impor sendiri," kata Bayu.
Dia juga menjelaskan perajin nantinya dipersilakan bekerja sama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog), sehingga dengan sejumlah upaya tersebut perajin berkemampuan mendapatkan kedelai yang paling murah.

Kemudian upaya ketiga yang direncanakan oleh Kemendag adalah mendorong produksi kedelai dalam negeri agar dapat mencukupi kebutuhan perajin tempe dan tahu serta produk turunan kedelai lokal.
Menurut Bayu, harga rata-rata kedelai dunia yang meningkat pada Juni 2012 sekitar 520 dolar AS per ton. Sedangkan pada Januari 2012 sekitar 435 dolar AS per ton, disebabkan oleh anomali cuaca di sejumlah negara pengimpor kedelai.
Kebutuhan kedelai dalam negeri per tahun, kata Bayu, sekitar 2 juta ton di luar kebutuhan pangan. Sedangkan produksi kedelai dalam negeri baru bisa menghasilkan sekitar 800 ribu ton dan sisanya masih mengimpor dari Amerika Serikat, Brazil, dan Argentina.

Semoga jurus-jurus khas pemerintah di atas benar-benar te-realisasi -kan secara optimal, sehingga mampu menstabilkan harga kedelai dan menjawab aspirasi serta keluhan produsen dan pedangang ragam produk olahan kedelai semisal tempe dll. :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar